“Sangat mudah, insya Allah.”
Jawaban Pak Edi Sudrajat Ahmad, ketua Yayasan Asih Putera dan Yayasan Baharu, itu bukan tanpa alasan. Beliau membandingkan rencana ToSM (Test of Second Mathematics) dengan fakta penyebaran Qiro’ati, nama metode baca Al-Quran. Sekretaris PD Muhammadiyah Kota Cimahi itu juga sudah menerapkan ToSM secara terbatas di MA Multiteknik Asih Putera.
Sebagai pelaksana diseminasi ToSM adalah Mutafannin Institute yang baru dirintis pada tahun 2024 dan dipimpin salah satu putra Pak Edi, yaitu Hafiz Nur, seorang sarjana
fisika lulusan Universitas Padjajaran. Pertemuan di Masjid Asih Putera Cimahi pada Ahad 15 Maret itu adalah pertemuan kedua, setelah sebelumnya dilakukan secara online.
Penerapan ToSM rencana dimulai dari internal, yaitu MTs Asih Putera dan SMP Gemilang Mutafannin. Dimulai dari kelas 9, lalu berlanjut kelas 7. Setelah itu, baru meluas ke seluruh Kota Cimahi.
ToSM sebenarnya, seperti diakui Pak Edi, terlalu remeh. Hanya tentang hitung dasar yang paling sederhana. Namun, ToSM menjadi besar apabila disadari bahwa hitung dasar itu setara dengan baca tulis. Dulu urusan pemberantasan buta huruf, yaitu agar bangsa Indonesia menguasai baca-tulis dasar, langsung dipimpin oleh seorang presiden: Bung Karno.
Namun, ada yang lebih mendasar dan menumbuhkan alasan terdalam (deepest why). Yaitu, sebagaimana terungkap dalam ḥādits, hitung dasar adalah unjuk kompetensi Nabi Adam langsung di hadapan Allahu ta’ala.
Periksa QS.2:30-33. Di dalam al-Qur’an, terungkap Nabi Adam unjuk kompetensi melakukan penamaan (penyebutan). Selanjutnya, di dalam ḥādits, terungkap Nabi Adam melakukan penyebutan dan pembilangan.
Pada titik itulah sinergi ToSM dengan Ayat-Ayat Cerita (AAC) menjadi nyata. Guna menumbuhkan identitas dan motivasi, guru dan siswa diajak langsung membuka Mushaf Ayat-Ayat Cerita dan menemukan unit AAC pertama, yaitu cerita penugasan Nabi Adam sebagai khalifatullah fil ardh.
Mushaf AAC sendiri bukan sekadar “Mushaf Hafalan” yang umumnya beredar di masyarakat. Misi AAC adalah bagaimana cerita dalam al-Qur’an memantik budaya nalar (فاقصص القصص لعلهم يتفكرون). Sebab, manusia diprogram dan diprogram ulang dengan cerita, bukan sekadar dengan logika.
Bagi sekolah yang menerapkan AAC artinya sejak awal bermaksud menumbuhkan budaya tahfizh sepanjang hayat. Dengan cara itu, proses tahfizh tidak berakhir, tapi berlanjut secara mandiri, begitu anak selesai sekolah. Hal itu hanya mungkin apabila AAC bermanfaat nyata, sebagai solusi membangun peradaban, bukan sekadar dibaca sewaktu di pengajian atau memasuki masjid atau teringat pekuburan.
Agar bergerak, siapapun perlu teladan dan sarana. Itulah Mushaf AAC, Al-Qur’an Tadabbur 7 Tema 558 Ruku'.
Bagaimana teladan dan sarana tersebut bekerja? Ketika menemukan cerita pertama, yaitu QS.2:30-33, guru dan siswa diajak bertanya: detail - operasional yang konsisten bagaimana? Jawabannya adalah Matematika Detik dan Matematika Titik. ToSM adalah bagian dari Matematika Detik.
Pak Edi, yang sangat terinspirasi Titik Ba, secara alamiah lebih tertarik pada Matematika Titik. Sama-sama eksplisit tentang titik, tentang العلم نقطة (keseluruhan ilmu adalah titik tunggal).
Namun, semua itu berarti mengasah metakognisi, pikiran di balik pikiran, berpikir tentang berpikir, melalui matematika. Semua itu hanya efektif apabila anak-anak terbebas dari gagap hitung, terasah intuisi mereka setajam mungkin. Matematika Detik adalah keniscayaan sebelum memasuki Matematika Titik, dan ToSM adalah langkah pertama.
Kamis, 01:30 WIB, Malam Terakhir Ramadhan 1447