MUTAKALLIMŪN VERSUS IBN TAIMIYYAH VERSUS IBN 'ARABĪ: ONTOLOGI MANA YANG PALING DEKAT DENGAN FISIKA MUTAKHIR DAN ISTILAH EKSPLISIT AL-QUR'ĀN?

Ahmad Thoha Faz | Dipublikasikan pada 5 November 2025 | Kategori: Titik Ba

Oleh KH Muhammad Faeshol Muzammil, ketua Lembaga Bahtsul Masa’il, penulis Titik Ba diperkenalkan secara offline dengan Rois Syuriah PWNU Jawa Tengah dan juga secara online dengan Prof Kusmayanto Kadiman.
Oleh KH Muhammad Faeshol Muzammil, ketua Lembaga Bahtsul Masa’il, penulis Titik Ba diperkenalkan secara offline dengan Rois Syuriah PWNU Jawa Tengah dan juga secara online dengan Prof Kusmayanto Kadiman.

(Artikel ini ditulis sebagai respon atas pertanyaan ketua LBM PWNU Jawa Tengah, KH Muhammad Faeshol Muzammil, tentang جوهر فرد, yang disampaikan pada saat Muktamar Ilmu Pengetahuan ke-2 di UNS, 7 Desember 2024).

Perdebatan tentang hakikat keberadaan (ontologi) alam semesta di kalangan cendekiawan Islam klasik sangat menentukan cara mereka memandang Tuhan, logika, dan sains. Tiga pandangan utama—Atomisme Teologis (Mutakallimūn), Realisme Empiris (Ibn Taimiyyah), dan Idealisme Simbolik (Ibn ‘Arabī)—menghasilkan kesimpulan yang beragam. Meninjau ketiganya melalui lensa fisika modern dan terminologi eksplisit Al-Qur’ān menunjukkan bahwa ontologi Ibn ‘Arabī memiliki resonansi yang mengejutkan dengan konsep-konsep mutakhir.

I. TIGA PANDANGAN ONTOLOGI KLASIK

A. MUTAKALLIMŪN: ATOMISME TEOLOGIS (جَوَاهِر فَرْدَة)

Mutakallimūn berpegang pada ontologi atomistik: alam semesta terdiri dari atom individu (جَوَاهِر فَرْدَة) yang keberadaannya terus-menerus diciptakan kembali oleh Tuhan. Karena alam dianggap tidak stabil, kepastian (يَقِين) harus dicari melalui logika formal.

B. IBN TAIMIYYAH: REALISME EMPIRIS (ٱلْـحَقِيقَة فِي ٱلْأَعْيَان)

Ibn Taimiyyah menolak atomisme, menekankan bahwa kebenaran ada pada entitas inderawi (ٱلْـحَقِيقَة فِي ٱلْأَعْيَان). Alam dianggap stabil dan konsisten. Kepastian utama datang dari induksi empiris (ٱسْتِقْرَاء) dan intuisi (فِطْرَة). Pandangan ini sangat mirip dengan realisme objektif yang dominan pada era fisika klasik (Newton hingga Einstein).

C. IBN ‘ARABĪ: IDEALISME SIMBOLIK (آيَة وَتَجَلٍّ)

Ibn ‘Arabī berpendapat bahwa hanya Tuhan (ٱلْـحَقّ) yang memiliki eksistensi sejati. Alam semesta sejatinya tidak ada sebagai entitas independen, melainkan hanyalah manifestasi (تَجَلٍّ) atau kode yang harus dibaca secara simbolik untuk menunjuk kepada sumbernya.

II. KESATUAN AYAT, MANDAT “DECODE” UNIVERSAL, DAN FISIKA KUANTUM

Kunci untuk menilai ontologi ini terletak pada pemahaman Al-Qur’ān tentang hakikat آيَة (tanda atau kode) dan bukti fisik yang menyingkirkan realisme substansial.

A. PERINTAH “DECODE” DAN KESATUAN TANDA (آيَة)

Perintah Allah taʿālā yang pertama diturunkan adalah:

ٱقْرَأْ

Iqra’ — “Bacalah/Dekode”

Ini menggarisbawahi hakikat realitas sebagai sebuah teks atau kode. Ayat kunci QS. Fussilat [41]: 53 memperkuat ini:

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي ٱلْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ ٱلْـحَقُّ

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (آيَات) Kami di segenap penjuru (فِي ٱلْآفَاقِ) dan pada diri mereka sendiri (وَفِي أَنفُسِهِمْ)…”

Ayat ini menegaskan kesatuan آيَة: tanda-tanda alam (آفَاق) dan tanda-tanda wahyu memiliki kesatuan fundamental dan berfungsi sebagai kode verifikasi bagi teks Ilahi. Pandangan Ibn ‘Arabī—bahwa alam adalah kode yang paralel dengan teks—adalah yang paling dekat dengan kesatuan ayat ini.

B. QUANTUM ENTANGLEMENT: KEMATIAN REALISME OBJEKTIF

Temuan fisika mutakhir memberikan pukulan telak kepada ontologi yang menekankan substansi stabil dan realisme objektif, seperti pandangan Ibn Taimiyyah dan Albert Einstein.

- Realisme Lokal vs. Entanglement: Realisme objektif (yang dipegang Ibn Taimiyyah dan Einstein) berasumsi bahwa objek memiliki sifat nyata dan independen sebelum diukur (objektivitas), dan bahwa tidak ada pengaruh yang bergerak lebih cepat dari cahaya (lokalitas).

- Quantum Entanglement: Fenomena ini menunjukkan bahwa dua partikel yang terpisah jarak jauh tetap terhubung sedemikian rupa sehingga pengukuran pada satu partikel secara instan menentukan status partikel lainnya, melebihi batas kecepatan cahaya (non-lokalitas).

- Kesimpulan Fisik: Serangkaian eksperimen yang memverifikasi ketidaksetaraan Bell telah secara definitif menunjukkan bahwa alam semesta tidak dapat dijelaskan oleh model realisme lokal. Dengan kata lain, objek tidak memiliki sifat yang independen dan pasti sebelum diukur, dan/atau ada koneksi non-lokal di antara mereka.

- Implikasi Ontologis: Temuan ini menyingkirkan pandangan Ibn Taimiyyah bahwa kebenaran ada pada entitas nyata (ٱلْأَعْيَان) yang stabil secara independen. Realitas, pada tingkat fundamental, tidak obyektif dan tidak stabil hingga diukur.

III. TITIK TEMU: INFORMASI DAN NON-LOKALITAS

A. INFORMASI SEBAGAI FONDASI UNIVERSAL

Reaksi fisika mutakhir terhadap kegagalan realisme objektif adalah pergeseran ontologis dari substansi (materi) menuju struktur (informasi). Gagasan seperti “It from Bit” (Wheeler) dan prinsip holografik melihat realitas sebagai kode informasional. Pandangan Ibn ‘Arabī bahwa alam adalah آيَة (kode/simbol) sangat mirip dengan model ini.

B. NON-LOKALITAS DAN KESATUAN

Fenomena entanglement menunjukkan bahwa alam semesta terhubung secara instan di luar ruang dan waktu klasik. Ini secara tak terduga selaras dengan konsep kesatuan eksistensi (وَحْدَة ٱلْوُجُود) yang diajukan Ibn ‘Arabī, di mana segala sesuatu adalah manifestasi dari satu eksistensi tunggal (ٱلْـحَقّ), dan pemisahan hanyalah ilusi pada tingkat تَجَلٍّ (manifestasi).

KESIMPULAN AKHIR

Ontologi Mutakallimūn (atomistik) dan Ibn Taimiyyah (realisme substansial) kini terbukti tidak memadai di mata fisika kuantum; yang pertama oleh non-deterministik, dan yang kedua oleh quantum entanglement yang menyingkirkan realisme objektif.

Hanya ontologi Ibn ‘Arabī yang dapat mengakomodasi temuan mutakhir: ia menganggap realitas bukan sebagai materi stabil, tetapi sebagai kode/simbol (آيَة) yang esensinya adalah informasi—sebuah struktur yang terhubung secara fundamental (non-lokalitas) dan konsisten dengan perintah Al-Qur’ān untuk mendekode realitas.