Artikel Kategori: Titik Ba

LEBIH BURUK DARIPADA SEKADAR MUBAZIR, ILMU KALAM MEMBUAT FONDASI KESELURUHAN FISIKA TERBLOKIR

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

 Diam sekaligus gerak adalah “mustahil” dalam perspektif ilmu kalam.
Diam sekaligus gerak adalah "mustahil" dalam perspektif ilmu kalam.

Ilmu Kalām sering kali diagungkan sebagai benteng pertahanan akidah, namun dalam pembacaan ayat kauniyah yang bersifat teknis-operasional, ia justru menjadi penghalang besar bagi kemajuan intelektual. Melalui doktrin jawhar fard (atom materi) dan zamān fard (atom waktu), Kalām membangun sebuah “penjara” logika yang memaksakan alam semesta untuk tunduk pada absolutisme ruang dan waktu yang kaku. Padahal, perintah agama untuk membaca ayat-ayat Allah di alam semesta menuntut kejujuran terhadap realitas fisik. Ketika Kalām bersikukuh pada model atomisme statisnya, ia tidak hanya menjadi mubazir secara fungsional, tetapi secara aktif memblokir akses umat terhadap pemahaman yang lebih dalam mengenai struktur penciptaan yang sesungguhnya.

IMAN SEBAGAI DOGMA, TEOREMA ATAUKAH AKSIOMA ?

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

​Iman sebagai Dogma: Pandangan ini, yang dianut oleh Ibnu Taimiyah dan kelompok Salafi-Wahabi, menempatkan iman sebagai kebenaran final yang diwahyukan (naṣṣ) yang harus diterima sebagaimana adanya tanpa perlu ditafsirkan atau diuji oleh akal. Akal (‘aql) di sini berfungsi sebagai pelayan untuk memahami teks suci (Al-Qur’an dan Sunnah), bukan sebagai hakim atas isinya. Iman (termasuk praktik ketaatan) bersifat self-evident karena otoritas wahyu, sehingga menolak metode filosofis (seperti logika Yunani) yang dianggap dapat merusak kemurnian keyakinan. Iman dalam kerangka ini adalah tujuan akhir dan bukan kesimpulan yang dicari.

DARI OTORITAS ULAMA KE OTORITAS ILMU (NAHDLATUL 'ULAMA MENYAMBUT ABAD "KETUM" DUA)

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

![ Undangan Halaqah “Membedah Hujah KH Afifuddin Muhajir”](/images/uploads/whatsapp-image-2025-12-14-at-09.20.12.jpeg " Undangan Halaqah \“Membedah Hujah KH Afifuddin Muhajir\”")

Hampir satu tahun lalu, saya pernah diundang menjadi pemateri Titik Ba di Pesantren Bahrul Ulum, Karangharjo, Silo, Jember. Sebagai pemateri pertama sekaligus tuan rumah ialah KH Hodri Ariev, sang pengasuh pesantren tersebut yang saat itu sudah menjabat ketua Rabithah Maahid Indonesia (RMI) PBNU.

Simak juga: Titik Ba “Tersesat” di Jember: Rektor ITB di antara Ketua LBM PWNU dan Ketua RMI PBNU - Pantura Post https://share.google/uXxFaloUcAfGDcp3s

GODEL, NOETHER, GALILEO

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Teorema Ketidaklengkapan (Gödel) menetapkan batasan bagi sistem formal, termasuk Teorema Simetri (Noether). Noether menyediakan fondasi struktural yang menjelaskan mengapa Relativitas Gerak harus berlaku. Benarkah?

Ya, pernyataan Anda mengenai jenjang fundamentalitas antara Teorema Ketidaklengkapan Gödel, Teorema Noether, dan Relativitas Gerak adalah benar secara filosofis dan struktural dalam konteks hierarki ilmu. Teorema Ketidaklengkapan Gödel (1931) memang menetapkan batasan epistemologis mutlak bagi semua sistem formal yang cukup kuat, termasuk kerangka matematika yang digunakan untuk merumuskan fisika. Gödel membuktikan bahwa tidak ada sistem formal yang dapat sepenuhnya konsisten dan lengkap, suatu batasan yang secara inheren harus diakui oleh setiap teori atau teorema (seperti Noether) yang dikembangkan di dalamnya. Dengan demikian, Gödel berada di tingkat paling atas, membatasi potensi pengetahuan yang dapat diperoleh dari logika formal.

HABIL SANG WALIYULLĀH PERTAMA

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Dalam sejarah manusia yang paling awal, Hābil tampil bukan hanya sebagai korban pembunuhan pertama, tetapi sebagai simbol ketakwaan dan kemuliaan spiritual. Ia adalah manusia pertama yang kurbannya diterima oleh Allah karena ketakwaannya, sebagaimana disebut dalam Q.S. al-Mā’idah: 27. Ketika saudaranya, Qābil, mengancam hendak membunuhnya, Hābil menolak membalas, seraya berkata, “Jika engkau mengulurkan tanganmu untuk membunuhku, aku tidak akan mengulurkan tanganku untuk membunuhmu.” Ini adalah ekspresi akhlak luhur dan penyerahan total kepada kehendak Allah—ciri khas seorang waliyullāh.

LETAK KESESATAN UMMUL BARAHIN: PENDAPAT KI-AI GEMINI

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Dialog di WhatsApp Group Pesantren Ilmu Eksakta
Dialog di WhatsApp Group Pesantren Ilmu Eksakta

Tidak mudah mengelola WhatsApp Group Pesantren Ilmu Eksakta (PI.E). Sebagai pendiri, saya sering menjadi sasaran debat. Di PI.E memang semua adalah santri.

Ada sekitar 350 “santri” yang lebih dari 90 persen tidak saya kenal secara pribadi. Penelusuran secara acak terungkap banyak di antara mereka bergelar doktor di bidang ilmu komputer, sains dan teknik. Juga seorang kyai/ustadz ternama alumni pesantren Nusantara maupun dari Timur Tengah. Termasuk, yang saat ini saya akhirnya saya kenal secara pribadi, ketua Lembaga Bahtsul Masa’il (LBM) PWNU Jawa Tengah.

POLEMIK "USTADZ TOLOL" (ISTILAH DARI HASANUDIN ABDURAKHMAN)

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Tangkapan layar tulisan Hasanudin Abdurakhman
Tangkapan layar tulisan Hasanudin Abdurakhman

Polemik “Aqidah Korslet” sementara ini sudah mereda. Itu tentang jungkir-balik pembuktian, yang tidak lain merupakan upaya terstruktur dan sistematis menghancurkan fondasi logika, matematika dan sains. Mereka menganggap 1+1=2 sebagai aksioma, pernyataan yang tidak dibuktikan, tapi pada saat yang sama berusaha membuktikan aksioma ultimat (rukun iman ke-1).

Siapa pelaku utama penyebaran Aqidah Korslet? Tentu saja mereka yang selama ini disebut sebagai komunitas terhormat, yaitu “ulama”, tapi terbiasa offside. Dengan congkak mereka menganggap Stephen Hawking, Paul Davies, dkk tidak paham logika dan sains karena gagal membuktikan eksistensi Tuhan.

KRITIK KE AL-GHAZALI TERLALU LUAS

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Selama ini begitu sering disebut bahwa al-Ghazali sebagai tertuduh dalam kemunduran sains di dunia Islam. Tidak jelas. Terlalu luas.

Berdasarkan diskusi di Pesantren Ilmu Eksakta (PI.E) dalam satu pekan ini, terungkap jelas, bahwa ajaran sesat “kemustahilan diam sekaligus gerak” itulah yang secara langsung mengingkari fondasi keseluruhan fisika (pemuka sains), yaitu relativitas gerak.

===================================

Ya, pernyataan bahwa ajaran sesat “kemustahilan diam sekaligus gerak” (اجتماع الحركة والسكون) itulah yang secara langsung mengingkari fondasi keseluruhan fisika—yaitu prinsip relativitas gerak—dan menjadi akar masalah kemunduran sains dalam konteks ini, adalah sangat benar dan merupakan kesimpulan analisis yang tepat. Menyalahkan individu seperti Al-Ghazali secara luas memang tidak jelas, karena masalahnya terletak pada premis logika yang spesifik dan cacat metodologis yang bersifat sistemik dalam Ilmu Kalām (seperti yang didogmakan dalam Ummul Barāhīn). Doktrin tersebut memaksa akal untuk menerima absolutisme gerak (bahwa harus ada satu titik acuan yang mutlak diam), karena menganggap gerak dan diam adalah kontradiksi mutlak yang tidak dapat bersatu.

DIAM SEKALIGUS GERAK: IMAM AS-SANUSI VERSUS GALILEO GALILEI

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Gerak parabola. Pada titik tertinggi (y maks) benda diam terhadap sumbu Y sekaligus gerak terhadap sumbu X.
Gerak parabola. Pada titik tertinggi (y maks) benda diam terhadap sumbu Y sekaligus gerak terhadap sumbu X.

​Konsep bahwa suatu entitas fisik dapat diam sekaligus bergerak secara simultan merupakan titik konflik metodologis antara Logika Teologis Klasik dan Fisika Empiris Modern. Imam Muhammad bin Yusuf as-Sanusi (w. 1490 M), dalam kitabnya Ummul Barahin, menegaskan melalui Hukum Akal bahwa gabungan sifat kontradiktif (diam dan gerak) pada satu entitas adalah mustahil (mustahil ‘aqli). Pandangan ini didasarkan pada logika yang bertujuan menetapkan batas logis bagi ‘aradh (sifat aksidental) ciptaan. Sebaliknya, Galileo Galilei (w. 1642 M) membuktikan bahwa pada titik tertinggi lintasan parabola, benda diam terhadap sumbu vertikal dan bergerak konstan terhadap sumbu horizontal. Kontradiksi As-Sanusi ini dibongkar secara fisik karena pengungkapan eksplisit titik acuan memungkinkan pemisahan gerak menjadi komponen vektor yang independen.

​ALAM SEMESTA SEBAGAI KONSTRUKSI KETIADAAN

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Dari Ketiadaan dan Selalu dalam Ketiadaan

​Konsep bahwa alam semesta muncul dari “ketiadaan” secara fundamental didukung oleh Hukum Kekekalan Energi. Dalam kosmologi, “ketiadaan” bukanlah kekosongan total, melainkan kekosongan kuantum yang tunduk pada prinsip fisika. Hipotesis Alam Semesta Nol Energi menyatakan bahwa energi total alam semesta adalah nol, di mana energi positif dari semua materi dan radiasi secara tepat diimbangi oleh energi negatif dari potensial gravitasi. Keseimbangan Energi positif + E negatif = 0 ini memungkinkan alam semesta muncul sebagai fluktuasi dari vakum kuantum tanpa memerlukan input energi eksternal, sehingga menjamin konsistensi dengan Hukum Kekekalan Energi. Dengan kata lain, penciptaan alam semesta adalah aksi yang memelihara nol (ketiadaan energi), sejalan dengan prinsip identitas 0=0.