Aqidah Korslet, yang secara fundamental bersandar pada penggunaan alam semesta sebagai bukti mutlak (دَلِيل) untuk eksistensi Tuhan, secara terang-benderang membelakangi filsafat sains dan epistemologi modern. Filsafat sains modern dibangun di atas dasar keraguan metodologis terhadap objektivitas alam—sebuah prinsip yang telah dihayati oleh pemikir Islam klasik berabad-abad sebelumnya.
I. AL-GHAZĀLĪ: KERAGUAN SEBAGAI JALAN MENUJU AKSIOMA
Mari kita mencermati pandangan Imam al-Ghazālī di fase akhir hidupnya, sebagaimana terpotret dalam karya otobiografinya المنقذ من الضلال (“Penyelamat dari Kesesatan”). Ia memulai dengan meragukan otoritas indera, bahkan yang paling kuat sekalipun. Ia menulis:
> من أين الثقة بالمحسوسات، وأقواها حاسة البصر، وهي تنظر إلى الظل فتراه واقفاً غير متحرك
> “Dari mana datangnya kepercayaan terhadap hal-hal yang diindera? Padahal indera yang paling kuat, yaitu penglihatan, ketika melihat bayangan, ia mengira bayangan itu diam tidak bergerak.”
Dari kegagalan indera dalam mengamati bayangan yang sejatinya bergerak secara bertahap, al-Ghazālī menyimpulkan bahwa indera tidak dapat dipercaya. Keraguan ini mendorongnya ke ranah akal, sebagaimana ia nyatakan:
> فلعلّه لا ثقة إلا بالعقليات
> “Maka, barangkali tidak ada kepercayaan kecuali pada hal-hal yang rasional (akal).”
Namun, al-Ghazālī tidak berhenti pada kekuatan nalar. Di ujung pencariannya, ia menemukan bahwa kebenaran mutlak tidak dicapai melalui penyusunan argumen atau logika formal. Ia menulis:
> ولم يكن ذلك بنظم دليل وترتيب كلام، بل بنور قذفه الله تعالى في الصدر
> “Dan hal itu tidak terjadi melalui penyusunan bukti (dalīl) dan susunan kata (logika), melainkan dengan cahaya yang dicampakkan Allah Ta‘ālā ke dalam dada.”
Pernyataan ini menunjukkan bahwa kebenaran tertinggi—yakni iman—tidak dicapai melalui proses deduktif, melainkan melalui pencerahan batin. Perjalanan ini menghayati firman Allah dalam QS. Fuṣṣilat [41]: 53:
> سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ
> “Kami akan perlihatkan kepada mereka tanda-tanda (Kami) di cakrawala dan dalam diri mereka sendiri.”
II. KONSISTENSI FILOSOFI RENÉ DESCARTES
Berabad-abad kemudian, René Descartes (w. 1650 M) merumuskan filsafatnya secara utuh dalam diktum terkenal: dubito ergo cogito ergo sum (“Aku ragu, maka aku berpikir, maka aku ada”). Sama seperti al-Ghazālī, Descartes memulai dengan meragukan data indera dan keberadaan alam semesta eksternal (فِي الْآفَاق — “di cakrawala”). Ia menemukan bahwa satu-satunya kepastian mutlak adalah kesadaran diri (فِي أَنفُسِهِمْ — “dalam diri mereka”).
Kedua pemikir, Timur dan Barat, sepakat bahwa aksioma yang pasti terletak secara internal, dan eksistensi alam semesta hanyalah آيَة (tanda) atau bayangan yang perlu ditafsirkan, bukan dijadikan fondasi pembuktian.
III. AQIDAH KORSLET: MENJUNGKIRBALIKKAN EPISTEMOLOGI
Aqidah Korslet—yang diwarisi dari tradisi Mutakallimūn—menjungkirbalikkan seluruh perjalanan epistemologis ini. Alih-alih meragukan alam semesta sebagaimana dilakukan oleh al-Ghazālī dan Descartes, Aqidah Korslet justru menjadikannya sebagai دَلِيل mutlak untuk membuktikan Tuhan. Ia menempatkan alam semesta yang kasat mata (فِي الْآفَاق) sebagai fondasi pembuktian, dan bukan sebagai آيَة yang harus ditafsirkan melalui cahaya iman (فِي أَنفُسِهِمْ).
Dengan demikian, Aqidah Korslet tidak hanya keliru secara teologis, tetapi juga gagal secara epistemologis dalam memahami dasar-dasar pemikiran rasional dan ilmiah yang telah berkembang sejak era al-Ghazālī hingga Descartes.