Saya menanyakan hal itu karena tiba-tiba ada bocah-bocah PII menyatakan ingin belajar Titik Ba, dan saya tidak tahu PII. Saya harus tahu audiens.
“PII itu seperti Muhammadiyah, tapi lebih keras,” jawabnya. Saya hanya mencatat dalam hati.
Sering terbersit di hati tidak ada orang yang lebih suka membaca, penasaran dengan pemikiran, melebihi saya. Tapi kebanggaan itu harus saya kubur dalam-dalam begitu berkenalan dengan kader-kader PII.
Ada 3 remaja mengayuh sepeda begitu jauh sekadar ingin mendengar penjelasan tentang Titik Ba langsung dari penulisnya. Dari pagi sampai malam. Tentu saja tidak sempat mandi.
Meski bukan kader, saya mulai terlibat lebih dalam dengan urusan kaderisasi PII. Selain mengisi kajian Titik Ba, beberapa kali saya mengisi intermediate training yang diselenggarakan PW PII Jawa Tengah.
Sekolah Ilmu Eksakta, cikal-bakal Pesantren Ilmu Eksakta (PI.E), yang kami rintis tidak terlepas dari antusiasme remaja yang aktif di PII.
Dengan cara tidak terduga, melalui Kang Ali Sobirin yang waktu itu aktif di P3M, akhirnya saya mengenal sosok yang sangat berpengaruh dalam kaderisasi PII, yaitu Mas Tom (almarhum Utomo Dananjaya). Selama 6 tahun penuh, 2008-2014, saya dibimbing langsung untuk menerjemahkan Titik Ba hingga detail-operasional.
“Aku tidak paham,” berulang-ulang Mas Tom menyatakan hal itu. Ya, gagasan yang tidak dapat diterjemahkan hingga detail-operasional yang konsisten berarti memang tidak dipahami. Mungkin cuma omong-kosong atau memang belum matang.
Ketika saya mulai paham mengapa Mas Tom tidak paham, soulmate Cak Nur itu meninggal dunia pada 2014. Ketika itu mulai terpikir Matematika Detik dan instrumennya yang disebut ToSM.
ToSM memang singkatan Test of Second Mathematics, yang dalam bentuk aplikasi kini telah diunduh hampir 100.000 kali. Tapi ToSM sebenarnya juga terinspirasi Toms alias Mas Tom.
“Aku tidak paham.” Suara Mas Tom masih terus nyaring di pikiran saya. Detail-operasional hingga aplikasi itu belum cukup. Detail -operasional harus sampai sistem.
Sejak Mas Tom meninggal, hubungan saya dengan IER Universitas Paramadina pun terputus. Semakin tersadar, bahwa hubungan saya dengan Mas Tom lebih merupakan hubungan persahabatan sehingga mungkin tidak ada seorang pun di sana yang memahami apa yang kami kerjakan.
Alhamdulillah, melalui Ustadz Zamzam Muharamsyah dan Ustadz Buya Yamin Majdi, saya diberi kesempatan oleh Pengurus Pusat Keluarga Besar PII untuk berbagi kalimat sakti dari Mas Tom: Saya tidak paham!