Jeda Sejarah: Ketiadaan yang Ditolak Barat
Selama berabad-abad, peradaban Barat yang dibangun di atas fondasi intelektual Yunani Kuno menghadapi masalah mendasar dalam matematika dan filsafat: bagaimana menerima ketiadaan atau kekosongan (the void).
Para filsuf paling berpengaruh di Barat kala itu, Plato dan Aristoteles, sepakat menolak gagasan kekosongan—meski dari sudut pandang yang berbeda. Idealisme Plato mengagungkan Bentuk-Bentuk yang substansial, membuat kekosongan metafisik menjadi tidak relevan. Sementara itu, fisika Aristoteles secara eksplisit melarang kekosongan fisik (horror vacui), menyatakan bahwa semua ruang harus diisi oleh zat. Karena angka dipandang sebagai atribut dari benda-benda yang ada, memberikan simbol pada “tidak ada apa-apa” dianggap sebagai pelanggaran filosofis yang serius. Konsekuensinya, Eropa Abad Pertengahan, yang berpegangan teguh pada kerangka Aristoteles, menolak angka nol selama berabad-abad.
Ketiadaan yang Dihidupi: Tradisi Filosofis India
Jauh di arah timur (jika dilihat dari perspektif orang Eropa), penerimaan terhadap ketiadaan justru menjadi pilar spiritual dan intelektual. Berbeda dengan pandangan Barat yang mengutamakan Wujud (Being), filsafat India, terutama Hindu dan Buddha, berani menghidupi konsep Śūnyatā (sunya atau kekosongan).
Dalam tradisi Buddha Mahayana, Śūnyatā dipahami bukan sebagai nihilisme, tetapi sebagai kekosongan esensi. Semua fenomena dianggap kosong dari sifat inheren dan eksistensi permanen; mereka muncul hanya dalam ketergantungan. Pemahaman filosofis ini menciptakan iklim di mana “ketiadaan” bukan hanya diterima, tetapi juga dihargai sebagai kunci menuju realitas tertinggi (Nirvana).
Dari lingkungan filosofis yang menghargai konsep sunya inilah lahir terobosan matematis yang revolusioner: Angka Nol. Para matematikawan India, seperti Brahmagupta pada abad ke-7, tidak hanya menggunakan nol sebagai placeholder (penanda posisi), tetapi juga mendefinisikannya sebagai angka dengan properti aljabar (seperti nol ditambah nol sama dengan nol, atau pengurangan bilangan yang sama menghasilkan nol). Keberanian mereka mendefinisikan ketiadaan sebagai entitas matematis adalah cerminan langsung dari kebebasan filosofis yang mereka miliki dari dogma anti-kekosongan Yunani.
Jejak Sang Penemu Nol: Al-Khawarizmi
Perpindahan ketiadaan dari ranah filsafat Timur ke praktik global modern terjadi melalui tangan seorang ulama dan ilmuwan Muslim Persia, Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi (abad ke-9 Masehi).
Al-Khawarizmi, yang karyanya melahirkan istilah aljabar (dari kitab Al-Jabr), adalah sosok kunci dalam transmisi pengetahuan India. Dalam karyanya mengenai aritmatika yang berjudul Kitāb al-Jam’a wa al-Tafriq bi Hisab al-Hind (Buku Penjumlahan dan Pengurangan Menurut Metode Perhitungan India), ia secara sistematis memperkenalkan dan mempopulerkan sistem bilangan desimal posisional India kepada dunia Islam.
Inti dari adopsi sistem ini adalah angka nol. Al-Khawarizmi secara efektif mengimpor konsep sunya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab sebagai sifr (yang secara harfiah berarti “kosong”). Kata sifr inilah yang kemudian diserap ke bahasa Latin menjadi zephirum atau cipher, dan akhirnya menjadi zero dalam bahasa Inggris.
Al-Khawarizmi tidak hanya mengadopsi simbol sifr tetapi juga memahami dan memanfaatkan kekuatannya sebagai placeholder yang memungkinkan operasi aritmatika yang kompleks. Dengan demikian, Al-Khawarizmi menjadi jembatan sejarah yang menyelamatkan konsep matematis terpenting yang lahir dari kebebasan filosofis India, dan menggunakannya untuk membuka jalan bagi aljabar dan sains modern—semuanya bertentangan dengan warisan filosofis Yunani yang dominan di Barat.