Artikel Kategori: Matematika Titik

AL-KHAWARIZMI DI NU ONLINE

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

NU Online menayangkan sosok al-Khawarizmi
NU Online menayangkan sosok al-Khawarizmi

Tepat satu tahun lalu, Rajab 1446, Januari 2025, diadakan bedah buku Titik Ba di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Jember. Sampai saat ini itu perjalanan terjauh, karena saya terbang dari Palembang. Segera setelah memenuhi undangan Ikatan Alumni ITB menginisiasi Gerakan Sumatera Selatan Berantas Gagap Hitung.

Tujuan saya di Jember cuma satu: menyadarkan warga NU, bahwa saat ini kita sedang memasuki era algoritma. Tidak lain algoritma merupakan sebutan tidak fasih, karena orang Eropa tidak paham makhorijul huruf, dari nama sebenarnya “Abu Ja’far Muhammad bin Musa al-Khawarizmi”.

"I SEE IT, BUT I DON'T BELIEVE IT": LOMPATAN KOGNITIF DARI GEOMETRI EUCLID KE ALJABAR LINEAR

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

sangat menakutkan bagi sebagian besar siswa SMA, mengapa?
sangat menakutkan bagi sebagian besar siswa SMA, mengapa?

Dunia geometri Euclid yang kita pelajari sejak sekolah dasar adalah dunia visual yang intuitif, di mana sebuah garis atau bangun ruang terikat erat pada lokasinya. Dalam kacamata ini, rusuk AB dan DC pada sebuah jajaran genjang dipandang sebagai dua entitas yang berbeda karena mereka menempati koordinat posisi yang berbeda di ruang. Kita bisa melihatnya secara fisik sebagai dua “benda” yang terpisah; jika kita menghapus satu, yang lain tetap ada. Inilah tahap “I See It”—kita mempercayai mata kita bahwa lokasi menentukan identitas sebuah objek geometri.

FISIKA SMA MEMBONGKAR KESESATAN ATOMISME / ABSOLUTISME GERAK DALAM KITAB AQIDAH "UMMUL BARAHIN"

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Cikal-bakal kesesatan konsep جوهر فرد yang kemudian dihancurkan oleh Isaac Newton dengan kalkulus.
Cikal-bakal kesesatan konsep جوهر فرد yang kemudian dihancurkan oleh Isaac Newton dengan kalkulus.

Kitab Ummul Barahin karya Imam al-Sanusi telah lama menjadi fondasi akidah Asy’ariyah yang membentuk pola pikir umat Islam, bahkan sejak era penjelajahan samudra Columbus. Dalam salah satu premis logisnya, kitab ini menegaskan kemustahilan berkumpulnya dua hal yang berlawanan, yaitu “diam” dan “gerak” pada satu objek di waktu yang sama. Pandangan ini berakar pada atomisme (جوهر فرد), sebuah logika ruang-waktu diskret yang menganggap realitas tersusun dari kepingan-kepingan beku. Akibatnya, gerak dianggap sebagai deretan posisi statis yang terputus-putus. Pola pikir ini, meski dimaksudkan untuk menjaga kemutlakan kuasa Tuhan dalam setiap momen penciptaan, secara tidak sengaja memerangkap nalar umat dalam absolutisme gerak yang kaku, menjadikannya resisten terhadap perkembangan sains modern yang justru berdiri di atas kontinuitas dan relativitas.

DARI FILOSOFIS HINGGA PRAKTIS

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Itu pertanyaan dari alumni Teknik Informatika ITB, yang datang ke Pesantren Ilmu Eksakta (PI.E) dan menyatakan berminat turut mengembangkan Matematika Detik. Saya katakan kepada sang “manusia kalkulator” tersebut lebih baik ke Matematika Titik. Cakupannya lebih luas.

Filosofi Matematika Titik adalah bahwa matematika adalah tentang penamaan titik. Nah, detail - operasional yang konsisten bagaimana dalam praktek kelas menit demi menit, dari kelas 1 SD dan seterusnya?

Berbeda dengan sewaktu merumuskan Matematika Detik yang dibantu banyak sukarelawan, sekarang dalam perumusan Matematika Titik saya dibantu oleh tim profesional. Mereka juga semua praktisi, yaitu dari Sekolah Al Biruni, sehingga satu pertanyaan yang ada di pikiran mereka adalah bagaimana Matematika Titik benar-benar memudahkan mereka sekaligus mengokohkan nalar anak-anak melalui proses berpikir dengan matematika?

GÖDEL MEMANDANG GOLDBACH: KEBENARAN DAN KETERBUKTIAN

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

​Di satu sudut, kita memiliki Konjektur Goldbach: sebuah pernyataan yang sangat sederhana dari tahun 1742 yang dapat dipahami oleh seorang siswa sekolah menengah, namun belum terpecahkan selama berabad-abad. Di sudut lain, kita memiliki Teorema Ketidaklengkapan Gödel: salah satu pencapaian intelektual terdalam abad ke-20, yang membuktikan bahwa ada batas fundamental pada apa yang dapat dibuktikan oleh matematika.

​Ketika dua raksasa ini bertemu, mereka menciptakan pertanyaan filosofis yang menakjubkan: Bagaimana jika Konjektur Goldbach itu benar, tetapi kita tidak akan pernah bisa membuktikannya?

SETELAH TITIK BA, MENGAPA BUKAN MATEMATIKA TITIK ?

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Dari Thinking Fast muncul Matematika Detik, dari Thinking Slow muncul Matematika Titik.
Dari Thinking Fast muncul Matematika Detik, dari Thinking Slow muncul Matematika Titik.

Dari Titik Ba ke Matematika Detik. Seperti ada loncatan atau keterputusan. Diskontinuitas.

Mengapa?

Dibimbing Mas Tom (almarhum Utomo Dananjaya) yang saat itu menjadi direktur Institute for Education Reform (IER) Universitas Paramadina, akhirnya terumuskan Metode aRTi, yang disingkat MRT. Intinya, berkaitan dengan reformasi pendidikan, pembelajaran seharusnya berfokus pada bagaimana berpikir (how to think) bukan sekadar apa yang dipikirkan (what to think). Sebagai contoh, tertulis di kata pengantar buku pegangan Kimia Universitas, “…bukan memahami IPA, melainkan berpikir melalui IPA.”

BUKAN DARI PLATO MAUPUN ARISTOTELES, MELAINKAN DARI FILSAFAT INDIA, AL-KHAWARIZMI MENGADOPSI "KETIADAAN"

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Jeda Sejarah: Ketiadaan yang Ditolak Barat

​Selama berabad-abad, peradaban Barat yang dibangun di atas fondasi intelektual Yunani Kuno menghadapi masalah mendasar dalam matematika dan filsafat: bagaimana menerima ketiadaan atau kekosongan (the void).

​Para filsuf paling berpengaruh di Barat kala itu, Plato dan Aristoteles, sepakat menolak gagasan kekosongan—meski dari sudut pandang yang berbeda. Idealisme Plato mengagungkan Bentuk-Bentuk yang substansial, membuat kekosongan metafisik menjadi tidak relevan. Sementara itu, fisika Aristoteles secara eksplisit melarang kekosongan fisik (horror vacui), menyatakan bahwa semua ruang harus diisi oleh zat. Karena angka dipandang sebagai atribut dari benda-benda yang ada, memberikan simbol pada “tidak ada apa-apa” dianggap sebagai pelanggaran filosofis yang serius. Konsekuensinya, Eropa Abad Pertengahan, yang berpegangan teguh pada kerangka Aristoteles, menolak angka nol selama berabad-abad.

DAKWAH KEPADA MEREKA YANG TIDAK MENGIMANI EKSISTENSI HIMPUNAN KOSONG: MENGAPA DAN BAGAIMANA?

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Rukun iman ke-1 dalam matematika
Rukun iman ke-1 dalam matematika

​1. Himpunan Kosong: Aksioma Mutlak yang Mustahil Dibuktikan

​Di mata filsuf realis empiris, Himpunan Kosong adalah entitas yang problematik karena ia tidak dapat diobservasi, ditimbang, atau diindra di dunia nyata. Namun, pemahaman yang lebih dalam tentang matematika mengungkapkan fakta yang lebih radikal: Himpunan Kosong tidak mungkin dibuktikan, baik secara empiris maupun secara logis.

APAKAH KETIADAAN ITU ADA?

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

IMPLIKASI KETIADAAN AKSIOMA HIMPUNAN KOSONG

Pertanyaan apakah “ketiadaan” (non-existence), yang direpresentasikan secara matematis sebagai himpunan kosong, memiliki keberadaan, merupakan persimpangan filosofis yang fundamental. Untuk memahaminya, kita harus meninjau dua aliran epistemologis utama: idealisme Plato dan empirisme Aristoteles.

Secara esensial, eksistensi ketiadaan ini harus diterima secara aksiomatik, dan menolak aksioma tersebut akan menghancurkan fondasi pengetahuan modern.

I. ALIRAN EPISTEMOLOGIS: KETIADAAN DI MATA PLATO DAN ARISTOTELES

Plato dan Aristoteles memberikan arah yang berbeda mengenai asal-usul pengetahuan, yang memengaruhi pandangan mereka terhadap entitas abstrak seperti ketiadaan.

MATEMATIKA "DETIK" BERTEMU MATEMATIKA "TITIK

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Catatan Dewi Insantika, salah satu anggota Tim Perumus Matematika Titik dari Sekolah Al Biruni.
Catatan Dewi Insantika, salah satu anggota Tim Perumus Matematika Titik dari Sekolah Al Biruni.

و النظري ما احتاج للتامل

وعكسه هو الضروري الجلى

Itu penggalan dari kitab manthiq berjudul Sullamul Munawraq. Itu melengkapi buku Thinking Fast and Slow karya Daniel Kahneman, yang merupakan rujukan utama Matematika Detik. Pengetahuan ضروري adalah tentang berpikir cepat, sedang نظري tentang berpikir lambat.