Dari Titik Ba ke Matematika Detik. Seperti ada loncatan atau keterputusan. Diskontinuitas.
Mengapa?
Dibimbing Mas Tom (almarhum Utomo Dananjaya) yang saat itu menjadi direktur Institute for Education Reform (IER) Universitas Paramadina, akhirnya terumuskan Metode aRTi, yang disingkat MRT. Intinya, berkaitan dengan reformasi pendidikan, pembelajaran seharusnya berfokus pada bagaimana berpikir (how to think) bukan sekadar apa yang dipikirkan (what to think). Sebagai contoh, tertulis di kata pengantar buku pegangan Kimia Universitas, “…bukan memahami IPA, melainkan berpikir melalui IPA.”
Mas Tom sepakat, tapi detail - operasional yang konsisten bagaimana?
Pikiran buntu. Sampai kemudian saya menemukan kitab Sullamul Munawraq, yang di dalamnya termuat pembagian dua kategori pengetahuan: و النظري ما احتاج للتامل و عكسه هو الضروري الجلى
Masih buntu. Karena tidak ada detail - operasional yang memadai dalam kitab dasar ilmu manthiq tersebut.
Kebuntuan akhirnya terpecahkan ketika pasa Februari 2014 saya menemukan buku karya Daniel Kahneman, “Thinking Fast and Slow”.
Kabar duka. Pada Juli 2014, Mas Tom berpulang ke rahmatullah.
Namun, apa yang dimulai dengan basmalah dan tujuan yang terang, tidak boleh ditinggalkan. Dari “Thinking Fast” itulah kemudian terumuskan Matematika Detik.
Matematika Detik belum sampai detail - operasional. Dari Matematika Detik Level A itulah terumuskan ToSM (Test of Second Mathematics), yang dalam bentuk aplikasi kini sudah diunduh lebih dari 99.000 kali.
“Mengapa bukan Matematika Titik?” Sang guru besar Titik Ba, KHA Zainuddin Shiddiq, mengingatkan. Ternyata si sulung, Muhammad Royhan, merasakan keanehan serupa. Mengapa dari Titik Ba bukan Matematika Titik?
Siap! Dari “Thinking Slow” mulai terumuskan Matematika Titik. Berbeda dengan sewaktu perumusan Matematika Detik, kali ini saya dibantu 5 (lima) personil profesional dari Sekolah Al Biruni. Di tempat yang berjarak sekitar 3 menit jalan kaki dari rumah itu, setiap Selasa pagi kami bertemu.