Mungkin sekilas tampak sebagai sikap inkonsisten. Ketika sedang berfokus pada ToSM Matematika Detik, saya seolah meloncat ke Ayat-Ayat Cerita (AAC). Tanpa perspektif keutuhan memang itulah yang tampak.
Sebenarnya tidak demikian. AAC dirumuskan adalah sebagai fondasi berpikir, sedangkan ToSM Matematika Detik adalah tentang Berpikir cepat.
Ketika menawarkan ToSM, saya merasakan sikap apati dan bahkan alergi dari masyarakat muslim. “Matematika tidak akan menjadi pertanyaan di alam kubur,” pernyataan semacam itu begitu mudah terdengar dari para agamawan. Bagi masyarakat agamis seperti Indonesia, adakah yang lebih otoritatif daripada mereka yang selalu bergamis?
Dalil agama hanya dapat dilawan dengan dalīl agama lagi. Terang di dalam hadits, sebagai penjelas al-Qur’an khususnya QS.2: 30-33, bahwa kemampuan yang ditunjukkan kali pertama oleh Nabi Adam di hadapan Allahu ta’ala adalah kemampuan memberi nama, mengenali bilangan dan melakukan operasi bilangan. Matematika!
Itu secara khusus. Secara umum, cerita adalah media paling efektif supaya manusia dapat berpikir. Sebab, manusia diprogram dan diprogram ulang dengan cerita.
فاقصص القصص لعلهم يتفكرون
“Maka ceritakanlah mereka cerita-cerita supaya mereka berpikir.”
Cerita menyentuh sisi emosi sebelum sisi kognisi. Temuan terbaru mengungkap bahwa ada 40.000 neuron dalam jantung (heart) yang dapat berpikir mandiri tanpa dikendalikan neuron dalam tempurung kepala. Bahkan, secara neurologi, sinyal dari jantung (heart) ke kepala (head) lebih kuat daripada arah kebalikannya.