Artikel Kategori: Ayat-Ayat Cerita

THE FANTASTIC FOUR DALAM فَانطَلَقَا KHIDHIR - MUSA

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

فانطلقا bersama Habibie Burhani (teman seangkatan di Teknik Industri ITB) di Masjid Al-Jabbar, Bandung
فانطلقا bersama Habibie Burhani (teman seangkatan di Teknik Industri ITB) di Masjid Al-Jabbar, Bandung

​Dalam narasi perjalanan epik antara Nabi Musa dan Nabi Khidir yang diabadikan dalam Surat Al-Kahfi, terdapat diksi spesifik yang diulang sebanyak tiga kali, yaitu kata فَانطَلَقَا (Fanthalaqa) yang berarti “maka berjalanlah keduanya”. Kemunculan pertama terjadi pada ayat 71 setelah mereka bersepakat untuk melakukan perjalanan dari tepi pantai. Kemunculan kedua terdapat pada ayat 74 setelah peristiwa perahu, dan kemunculan ketiga pada ayat 77 setelah peristiwa anak muda. Pengulangan ini bukan sekadar jeda naratif, melainkan sebuah instruksi “perpindahan fisik” yang krusial. Secara linguistik, huruf Fa (ف) di depan kata tersebut menunjukkan kesegeraan (at-ta’qib), yang berarti setelah sebuah peristiwa besar atau dialog terjadi, mereka tidak berdiam diri, melainkan langsung bergerak maju untuk melanjutkan perjalanan.

"OUT OF THE BOX": AYAT-AYAT CERITA DAN REPLIKA KA'BAH DI PENERBIT AL-QOSBAH

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

“Out of the box,” kata Shabbany Shodaq, pemimpin tertinggi di Penerbit alQosbah, setelah mendengar presentasi gambar besar mushaf Ayat-Ayat Cerita (AAC).

Bagi Shodaq, gagasan AAC bukan hal baru. Saya telah menyampaikan hal itu sejak beliau masih memimpin Penerbit Cordoba. Tapi AAC memang terus berevolusi semakin tajam.

Selain out the box, AAC adalah the great box. Memetakan 6.236 ayat al-Qur’an ke dalam 7 tipe cerita adalah tugas besar. Sejak awal menyadari itu tugas sebagai PNS (Pegawai Ngalam Semesta), sehingga selalu ada ada alasan untuk selalu antusias.

AYAT-AYAT "CERITA" LEBIH TEPAT DARIPADA "SEJARAH" MAUPUN "KISAH", MENGAPA?

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Tipe Mushaf AAC
Tipe Mushaf AAC

​Penggunaan istilah Cerita jauh lebih tepat daripada “Sejarah” karena membebaskan ayat-ayat Al-Qur’an dari belenggu kronologi masa lalu yang statis. Secara operasional, istilah “Sejarah” cenderung mengunci ingatan pembaca pada peristiwa yang sudah selesai dan tidak terulang kembali. Sebaliknya, Ayat-Ayat Cerita (AAC) memosisikan teks suci sebagai sebuah skenario dinamis dengan pola konflik yang bersifat universal dan dapat berulang (repeatable pattern) di masa kini maupun masa depan. Melalui kacamata cerita, pembaca tidak lagi menjadi pengamat riwayat yang pasif, melainkan seorang analis yang membedah struktur Karakter dan Konflik untuk menemukan solusi operasional dalam setiap skenario kehidupan.

PENULIS BESTSELLER "SEKOLAH MENYENANGKAN"

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Sudah sejak 2007, melalui Titik Ba terbitan Mizan, Pak Edi Sudrajat Ahmad tergerak ingin bersilaturahim ke Tegal. Beliau tinggal di Cimahi.

Ternyata alumni Manajemen Kehutanan IPB itu seorang penulis buku bestseller. Bukunya, yaitu “Sekolah yang Menyenangkan” diterbitkan Nuansa Cendekia pada Juli 2012 dan telah dicetak ulang hingga cetakan ke-4 pada 2019.

Pak Edi sangat terinspirasi Titik Ba. Itu terlihat pada draft buku ke-2 yang diberi judul “Sekolah yang Menyenangkan dan Mengadabkan. Bab III, yaitu Lima Prinsip Penyelenggaraan Sekolah Model Mutafannin”, berisi rangkuman lima prinsip universal yang diperkenalkan dalam buku Titik Ba.

TIBA-TIBA "AYAT-AYAT CERITA", BENARKAH ?

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Perhatikan, posisi Ayat-Ayat Cerita (AAC) dalam perspektif keutuhan.
Perhatikan, posisi Ayat-Ayat Cerita (AAC) dalam perspektif keutuhan.

Mungkin sekilas tampak sebagai sikap inkonsisten. Ketika sedang berfokus pada ToSM Matematika Detik, saya seolah meloncat ke Ayat-Ayat Cerita (AAC). Tanpa perspektif keutuhan memang itulah yang tampak.

Sebenarnya tidak demikian. AAC dirumuskan adalah sebagai fondasi berpikir, sedangkan ToSM Matematika Detik adalah tentang Berpikir cepat.

Ketika menawarkan ToSM, saya merasakan sikap apati dan bahkan alergi dari masyarakat muslim. “Matematika tidak akan menjadi pertanyaan di alam kubur,” pernyataan semacam itu begitu mudah terdengar dari para agamawan. Bagi masyarakat agamis seperti Indonesia, adakah yang lebih otoritatif daripada mereka yang selalu bergamis?

HARUN MENYATAKAN يَا ابْنَ أُمَّ, MENGAPA HABIL TIDAK?

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

PSIKOLOGI KONFLIK PERSAUDARAAN DALAM AL-QUR’AN

Kisah-kisah persaudaraan dalam Al-Qur’an—seperti tragedi Qabil dan Habil versus krisis Musa dan Harun—menawarkan wawasan mendalam tentang psikologi konflik. Ketika dihadapkan pada amarah saudara sedarah, Harun memilih strategi yang secara psikologis intim: memanggil Musa dengan يَا ابْنَ أُمَّ (“wahai putra ibuku”). Ironisnya, Habil tidak menggunakan panggilan emosional serupa kepada Qabil. Perbedaan fundamental ini bukan sekadar pilihan kata, melainkan cerminan dari kualitas amarah agresor dan kondisi hubungan yang sudah terjalin.

MANAJEMEN AMARAH SAUDARA SEDARAH: PSIKOLOGI DI BALIK KISAH QABIL - HABIL VERSUS HARUN - MUSA

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Al-Qur’an menyajikan dua studi kasus kontras mengenai manajemen konflik dan kemarahan antara saudara sedarah: tragedi Qabil dan Habil yang berakhir dengan pembunuhan, dan krisis Musa dan Harun yang berakhir dengan rekonsiliasi. Analisis psikologis dari kedua kisah ini mengungkapkan bahwa kualitas sumber amarah dan strategi penanganan konflik oleh korbanlah yang menentukan nasib hubungan tersebut.

KEMARAHAN QABIL: MANIFESTASI EGO YANG PATOLOGIS

Kemarahan yang melanda Qabil bukanlah kemarahan yang dibenarkan atau reaktif, melainkan kemarahan patologis yang berakar pada penyakit hati yang dalam: kedengkian (ḥasad).

DEADLINE NISHFU SYA'BAN 1447 HIJRIYAH

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Ahmad Thoha Faz (kiri) bersama Hakan dan Alif yang sama-sama memegang kitab Amtsilatut Tashrifiyyah.
Ahmad Thoha Faz (kiri) bersama Hakan dan Alif yang sama-sama memegang kitab Amtsilatut Tashrifiyyah.

“Kapan saya mendapatkan lembar kerja Ayat-Ayat Cerita (AAC)?”

Pertanyaan itu disampaikan Hakan kepada Ustadz Mufrodi, pengasuh Rumah Tahfizh Al-Furqon sekaligus moderator Tadarus AAC yang rutin diselenggarakan secara online berpusat di Pesantren Ilmu Eksakta (PI.E).

“Paling lambat besok,” jawab Ustadz Mufrodi yang saat ini juga diberi amanat sebagai kepala sekolah SMP IT Elmuna-vie, Depok, Pangkah, Kabupaten Tegal.

ALAT TULIS DAN MAKAN - MINUM OUTING CLASS TADARUS AAC

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Peserta outing class Tadarus AAC sedang menunjukkan buku dan pulpen pemberian hamba Allah.
Peserta outing class Tadarus AAC sedang menunjukkan buku dan pulpen pemberian hamba Allah.

Rumah Tahfizh Gemilang (RTG) Al Furqon berlokasi di Jalan Gatotkaca No. 4, Slerok, Kota Tegal. Para santri perlu berjalan kaki, atau bersepeda, untuk menempuh jarak 2,6 kilometer ke Pesantren Ilmu Eksakta (PI.E). Lumayan menguras energi.

Oleh karena itu, ketika kami menawarkan program outing class bagi para santri Rumah Tahfizh Gemilang, kami memikirkan makan- minum. Saya mengajak istri saya, yang sedang merintis usaha kuliner “Food City”, untuk turut menyediakan makanan ringan bergizi gratis.

TAFSIR AL-MISHBAH DAN TADARUS AYAT-AYAT CERITA

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Tepat pada peringatan hari Kartini, 21 April 2024, tiga sosok dokter perempuan membawa Tafsir Al Mishbah ke PI.E
Tepat pada peringatan hari Kartini, 21 April 2024, tiga sosok dokter perempuan membawa Tafsir Al Mishbah ke PI.E

21 April 2024, satu paket berisi 12 jilid Tafsir Al Mishbah datang ke Pesantren Ilmu Eksakta (PI.E). Dibawa langsung Dokter Endang Nuryanto dan rombongan.

Mengapa PI.E meluaskan jangkauan perhatian ke tafsir al-Qur’an?