WAHDATUL WUJUD ATAUKAH WIHDATUL WUJUD?

Ahmad Thoha Faz | Dipublikasikan pada 22 November 2025 | Kategori: Titik Ba

(​Membaca Ulang QS. 41:53 Dalam Perspektif Naqliyah Maupun ‘Aqliyah)​

Perdebatan mengenai Wahdatul Wujud (Waḥdatul Wujūd) dan Wihdatul Wujud (Wiḥdatul Wujūd) telah menjadi inti dalam diskursus Tasawuf selama berabad-abad. Meskipun keduanya secara populer merujuk pada doktrin Kesatuan Eksistensi (Monisme), nuansa gramatikalnya membuka ruang bagi penafsiran yang berbeda ketika dihadapkan pada logika teks suci (naqliyah) dan logika sains (‘aqliyah). Analisis ini bertujuan menimbang mana di antara keduanya yang paling konsisten dalam menafsirkan QS. 41:53, ayat yang berbicara tentang bukti kebenaran yang tersebar di alam semesta dan diri manusia.

​I. Perspektif Naqliyah: Logika QS. 112 (Al-Ikhlas)

​Perspektif naqliyah (berdasarkan teks) menjadikan Surah Al-Ikhlas (QS. 112) sebagai fondasi utama karena surah ini adalah pernyataan paling definitif tentang Keesaan Tuhan dalam Islam. Surah ini dimulai dengan perintah: “Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa.”

​Dalam konteks ini, Wahdatul Wujud (وحدانية - Waḥdah), yang berarti Keesaan Mutlak (Oneness), secara terminologis lebih selaras dengan inti Surah Al-Ikhlas. Waḥdah menekankan aspek Kesendirian dan Keunikan Tuhan, meniadakan segala mitra atau pesaing dalam keberadaan. Implikasinya adalah bahwa jika Realitas Mutlak adalah Ahad (Esa), maka segala sesuatu selain-Nya (alam semesta dan ciptaan) haruslah memiliki status keberadaan yang sekunder, bayangan, atau tidak mandiri. Dengan demikian, dari sudut pandang pemurnian tauhid (Al-Ikhlas), Wahdatul Wujud menyediakan dasar teologis yang kuat bahwa hanya Allahu Ta’ala-lah satu-satunya eksistensi sejati (al-Haqq).

​II. Perspektif ‘Aqliyah: Logika Matematika dan Sains Mutakhir

​Perspektif ‘aqliyah (berdasarkan akal/logika) melihat alam semesta melalui lensa fisika dan matematika fundamental. Fisika modern menunjukkan bahwa alam semesta adalah kumpulan simbol atau kode (seperti yang diisyaratkan oleh istilah ayat). Logika matematika menetapkan bahwa keseluruhan struktur matematika—dari bilangan bulat hingga kalkulus—dapat diturunkan dari konsep Himpunan Kosong, yang melambangkan ketiadaan (emptiness). Jika keseluruhan ayat (ciptaan) berasal dari ketiadaan, maka ayat itu sendiri secara hakiki tidak memiliki keberadaan mandiri. Oleh karena itu, semua yang lain hanyalah manifestasi yang tidak nyata, yang fungsinya adalah menunjuk pada Eksistensi Sejati (Allah).

​Logika ini sangat mendukung Wahdatul Wujud. Wahdatul Wujud menegaskan bahwa hanya Realitas Mutlak yang memiliki eksistensi sejati. Semua ciptaan adalah bayangan yang tidak memiliki realitas independen. Dalam pandangan ini, seluruh ayat (al-āfāq dan anfusihim) bersifat satu dan utuh dalam ketiadaannya (semuanya adalah simbol yang tidak nyata) untuk secara total menyorot Keesaan Mutlak (Waḥdah) Sang Rabbul ‘Alamin

​III. Membaca Ulang QS. 41:53

​QS. 41:53 berbicara tentang kesatuan penandaan (wihdatul ayat), di mana dua ranah—alam semesta (al-āfāq) dan diri (anfusihim)—bersatu untuk menunjukkan Kebenaran Mutlak (al-Haqq). Ketika ayat ini dianalisis dengan menggunakan premis Wahdatul Wujud yang dikuatkan oleh logika naqliyah dan ‘aqliyah, implikasinya menjadi sangat tegas.

​Pertama, mengenai Ayat (al-āfāq dan anfusihim), ia diinterpretasikan sebagai keseluruhan ciptaan yang tidak memiliki keberadaan sejati. Implikasinya adalah bahwa ciptaan menjadi satu kesatuan (utuh tak terbagi) dalam status ketidakadaan hakiki-nya, sehingga fokusnya tunggal. Kedua, mengenai Tujuan (Al-Haqq), interpretasinya adalah untuk menunjukkan bahwa hanya Dia yang Ada (Keesaan Mutlak). Dengan demikian, sistem penandaan yang paling sempurna adalah yang meniadakan keberadaan segala sesuatu selain Diri-Nya.

​Meskipun Wihdatul Wujud (Wiḥdah) menekankan Kesatuan (Unity) dan sangat relevan dengan penyatuan al-āfāq dan anfusihim, argumen filosofis yang berakar pada ketiadaan ciptaan mengarahkan pada penekanan yang lebih mendasar, yaitu Keesaan Mutlak (Waḥdah) dari Realitas.

​Kesimpulan

​Dalam konteks pemurnian tauhid (QS. 112) dan logika ketiadaan (‘aqliyah), Wahdatul Wujud (وحدانية - Waḥdatul Wujūd) memberikan kerangka terminologis yang lebih konsisten dan fundamental. Ia berhasil meniadakan segala keberadaan sekunder (syahadah) di alam semesta, memandang alam dan diri sebagai satu kesatuan manifestasi yang tidak nyata, yang hanya berfungsi sebagai penunjuk yang sempurna menuju Keesaan Mutlak (Waḥdah) dari satu-satunya Eksistensi Sejati (al-Haqq).