Dalam sejarah manusia yang paling awal, Hābil tampil bukan hanya sebagai korban pembunuhan pertama, tetapi sebagai simbol ketakwaan dan kemuliaan spiritual. Ia adalah manusia pertama yang kurbannya diterima oleh Allah karena ketakwaannya, sebagaimana disebut dalam Q.S. al-Mā’idah: 27. Ketika saudaranya, Qābil, mengancam hendak membunuhnya, Hābil menolak membalas, seraya berkata, “Jika engkau mengulurkan tanganmu untuk membunuhku, aku tidak akan mengulurkan tanganku untuk membunuhmu.” Ini adalah ekspresi akhlak luhur dan penyerahan total kepada kehendak Allah—ciri khas seorang waliyullāh.
Secara etimologis, “waliyullāh” berasal dari akar kata و–ل–ي yang bermakna kedekatan dan perlindungan. Dalam terminologi Qur’ani, waliyullāh adalah orang yang beriman dan bertakwa, yang tidak takut dan tidak bersedih (Q.S. Yūnus: 62–63). Hābil memenuhi dua syarat ini: ia beriman, bertakwa, dan menunjukkan kesabaran luar biasa dalam menghadapi kezaliman. Ia tidak hanya menjadi muttaqī pertama, tetapi juga syuhadā’ pertama dalam sejarah manusia.
Setelah Hābil dibunuh, Allah menunjukkan karomah-Nya: Dia mengutus seekor burung gagak untuk mengajarkan Qābil cara menguburkan jasad saudaranya. Ini adalah bentuk karāmah jasadiyyah—pemuliaan terhadap tubuh seorang wali bahkan setelah wafat. Allah tidak membiarkan jasad Hābil terhina. Ia mengintervensi langsung untuk menjaga kehormatan wali-Nya, menjadikan pemakaman Hābil sebagai institusi sosial pertama dalam peradaban manusia.
Ironisnya, Qābil—pelaku pembunuhan dan tergolong fājir—menjadi agen tak sadar dalam menegakkan norma pemakaman. Ini mengingatkan kita pada sabda Nabi ﷺ: “Sesungguhnya Allah menolong agama ini melalui orang yang fājir.” Qābil, meski berdosa, menjadi perantara lahirnya etika sosial yang luhur. Namun, yang dimuliakan adalah Hābil, bukan karena perbuatannya, tetapi karena maqām spiritualnya sebagai wali yang dibela oleh Allah.
Hābil adalah waliyullāh pertama, bukan karena ia menang secara duniawi, tetapi karena ia menang secara ruhani. Ia adalah ikon awal tauhid insāniyyah—bahwa martabat manusia ditentukan oleh ketakwaan, bukan kekuasaan. Karomahnya bukan dalam bentuk mukjizat spektakuler, tetapi dalam bentuk pemuliaan eksistensial yang menjadi fondasi etika sosial dan spiritual umat manusia. Dari Hābil, kita belajar bahwa Allah menjaga kehormatan wali-Nya, bahkan setelah kematian.