IMAN SEBAGAI DOGMA, TEOREMA ATAUKAH AKSIOMA ?

Ahmad Thoha Faz | Dipublikasikan pada 23 December 2025 | Kategori: Titik Ba

​Iman sebagai Dogma: Pandangan ini, yang dianut oleh Ibnu Taimiyah dan kelompok Salafi-Wahabi, menempatkan iman sebagai kebenaran final yang diwahyukan (naṣṣ) yang harus diterima sebagaimana adanya tanpa perlu ditafsirkan atau diuji oleh akal. Akal (‘aql) di sini berfungsi sebagai pelayan untuk memahami teks suci (Al-Qur’an dan Sunnah), bukan sebagai hakim atas isinya. Iman (termasuk praktik ketaatan) bersifat self-evident karena otoritas wahyu, sehingga menolak metode filosofis (seperti logika Yunani) yang dianggap dapat merusak kemurnian keyakinan. Iman dalam kerangka ini adalah tujuan akhir dan bukan kesimpulan yang dicari.

​Iman sebagai Teorema: Pendekatan Mutakallimun (Ahli Kalam, seperti Asy’ariyah dan Mu’tazilah) menempatkan iman, terutama Tauhid, sebagai kesimpulan yang harus dibuktikan secara rasional (hujjah). Dengan menggunakan logika dan argumen filosofis (misalnya, Dalil al-Huduth atau argumen sebab-akibat), mereka berupaya menurunkan kebenaran iman dari premis-premis universal yang dapat diterima oleh akal. Akal dalam hal ini adalah alat utama verifikasi dan apologetika untuk membela keyakinan dari serangan kaum skeptis atau filosof non-Muslim. Iman menjadi hasil yang diperoleh dari proses penalaran deduktif yang ketat.

​Iman sebagai Aksioma: Cara pandang ini sering diadopsi oleh Muslim yang bergerak dalam disiplin ilmu formal seperti matematika dan sains modern. Iman, terutama Tauhid, diperlakukan sebagai premis dasar atau postulat yang disepakati untuk membangun keseluruhan sistem pengetahuan dan etika. Keyakinan (misalnya, ‘Allah adalah Pencipta yang Maha Sempurna’) diterima tanpa perlu pembuktian formal (dogma) atau pencarian bukti logis (teorema), tetapi sebagai fondasi yang konsisten. Akal dan metode ilmiah kemudian digunakan untuk menurunkan konsekuensi dari aksioma ini—misalnya, keteraturan alam semesta harus dipelajari (sains) karena itu adalah refleksi dari kesempurnaan dan keteraturan Pencipta.