LEBIH BURUK DARIPADA SEKADAR MUBAZIR, ILMU KALAM MEMBUAT FONDASI KESELURUHAN FISIKA TERBLOKIR

Ahmad Thoha Faz | Dipublikasikan pada 23 December 2025 | Kategori: Titik Ba

 Diam sekaligus gerak adalah “mustahil” dalam perspektif ilmu kalam.
Diam sekaligus gerak adalah "mustahil" dalam perspektif ilmu kalam.

Ilmu Kalām sering kali diagungkan sebagai benteng pertahanan akidah, namun dalam pembacaan ayat kauniyah yang bersifat teknis-operasional, ia justru menjadi penghalang besar bagi kemajuan intelektual. Melalui doktrin jawhar fard (atom materi) dan zamān fard (atom waktu), Kalām membangun sebuah “penjara” logika yang memaksakan alam semesta untuk tunduk pada absolutisme ruang dan waktu yang kaku. Padahal, perintah agama untuk membaca ayat-ayat Allah di alam semesta menuntut kejujuran terhadap realitas fisik. Ketika Kalām bersikukuh pada model atomisme statisnya, ia tidak hanya menjadi mubazir secara fungsional, tetapi secara aktif memblokir akses umat terhadap pemahaman yang lebih dalam mengenai struktur penciptaan yang sesungguhnya.

​Kegagalan fatal Kalām terletak pada pengingkarannya terhadap Relativitas Gerak, yang merupakan fondasi tunggal bagi seluruh fisika modern. Dengan mempertahankan keyakinan bahwa setiap perpindahan materi adalah peristiwa penciptaan ulang pada koordinat absolut yang tetap, Kalām menutup mata terhadap fakta bahwa ruang-waktu bersifat dinamis dan relatif terhadap pengamat. Efeknya, konsep-konsep krusial seperti dilatasi waktu atau kontraksi panjang yang menjadi tulang punggung teknologi satelit dan navigasi modern menjadi mustahil untuk dirumuskan dalam kerangka kerja Kalām. Absolutisme ini bukan sekadar perbedaan pendapat filosofis, melainkan kebutaan ontologis yang membuat ilmu ini bernilai negatif dalam upaya menghitung detail operasional alam semesta.

​Perbandingan akurasi antara Mekanika Kuantum dan Kalām dalam menghitung fenomena mikro, seperti momen magnetik elektron, menunjukkan jurang yang tidak terdamaikan. Mekanika Kuantum mampu mencapai presisi hingga dua belas angka di belakang koma karena ia merangkul relativitas melalui formalisme matematis yang canggih, sementara Kalām sama sekali tidak memiliki instrumen untuk menghasilkan angka prediktif. Tanpa kalkulus dan tanpa pengakuan terhadap sifat kontinu-relatif dari geometri ruang-waktu, Kalām terjebak pada narasi “apa” tanpa pernah bisa menjelaskan “bagaimana”. Skor nol atau bahkan negatif dalam aspek operasional ini menjadi bukti bahwa Kalām telah gagal menjalankan mandat sebagai alat bantu untuk membaca ayat kauniyah seakurat mungkin.

​Pada akhirnya, mempertahankan Kalām klasik sebagai metode utama untuk memahami alam semesta adalah sebuah langkah mundur yang membahayakan integrasi antara iman dan ilmu. Islam melarang keras memikirkan Zat Allah, namun memerintahkan pengamatan mendalam terhadap ciptaan-Nya. Jika instrumen pengamatan tersebut (seperti Kalām) justru mengaburkan hukum alam yang nyata dan teruji seperti gravitasi dan relativitas, maka ia telah kehilangan relevansinya. Untuk membaca ayat-ayat Allah secara jujur, kita memerlukan perangkat yang mampu memetakan realitas seakurat mungkin, bukan sekadar logika dialektika kuno yang justru memblokir pintu-pintu penemuan sains paling fundamental bagi umat manusia.