Penggunaan istilah Cerita jauh lebih tepat daripada “Sejarah” karena membebaskan ayat-ayat Al-Qur’an dari belenggu kronologi masa lalu yang statis. Secara operasional, istilah “Sejarah” cenderung mengunci ingatan pembaca pada peristiwa yang sudah selesai dan tidak terulang kembali. Sebaliknya, Ayat-Ayat Cerita (AAC) memosisikan teks suci sebagai sebuah skenario dinamis dengan pola konflik yang bersifat universal dan dapat berulang (repeatable pattern) di masa kini maupun masa depan. Melalui kacamata cerita, pembaca tidak lagi menjadi pengamat riwayat yang pasif, melainkan seorang analis yang membedah struktur Karakter dan Konflik untuk menemukan solusi operasional dalam setiap skenario kehidupan.
Selain itu, istilah Cerita memiliki cakupan universal yang memungkinkan masuknya kategori E (Gaib), F (Biologi), dan G (Fisika) ke dalam satu panggung narasi yang utuh. Dalam narasi sejarah konvensional, entitas seperti Malaikat, lebah, hingga benda mati seperti langit dan bumi sering kali hanya dianggap sebagai latar belakang atau mukjizat semata. Namun, dalam teori cerita, setiap entitas yang memiliki agensi (kemampuan bertindak) dan terlibat dalam interaksi disebut sebagai aktor. Dengan menggunakan istilah “Cerita”, dialog Langit dan Bumi dalam Al-Qur’an secara sah dipetakan sebagai Karakter fungsional, yang membuktikan bahwa seluruh spektrum eksistensi ciptaan Allah sedang memerankan tugasnya masing-masing dalam satu jalinan skenario Tauhid.
Secara linguistik, istilah Cerita terasa jauh lebih menyatu dan selaras saat disandingkan menjadi frasa “Ayat-Ayat Cerita”. Perpaduan kata ini menciptakan resonansi fonetik yang harmonis dan memberikan kesan sebuah kesatuan sistemik yang mengalir. Dalam penyusunan sebuah metodologi, keserasian antara objek (Ayat) dan sifatnya (Cerita) sangat krusial untuk membangun pemahaman kognitif yang kuat bagi para pengguna. Penggunaan kata “Cerita” menjadikan Al-Qur’an terasa lebih dekat, seolah-olah setiap ayat adalah bagian dari narasi besar yang sedang kita jalani bersama, bukan sekadar dikte hukum atau catatan masa silam yang kaku.
Terakhir, istilah Cerita memiliki kedekatan emosional yang mendalam karena terhubung secara bawah sadar dengan narasi “Cinta”, sebagaimana populer dalam fenomena Ayat-Ayat Cinta. Kedekatan ini sangat efektif dalam membangun engagement dan kasih sayang pembaca terhadap setiap ayat yang dipelajari. Dengan pendekatan ini, metodologi AAC tidak hanya menawarkan analisis teknis-operasional, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan yang paling dasar. Al-Qur’an pun bertransformasi dari sekadar kitab bacaan menjadi sebuah jalinan Cerita Cinta antara Sang Pencipta dengan makhluk-Nya, yang di dalamnya terdapat petunjuk, inspirasi, dan solusi untuk setiap konflik kehidupan.