THE FANTASTIC FOUR DALAM فَانطَلَقَا KHIDHIR - MUSA

Ahmad Thoha Faz | Dipublikasikan pada 11 January 2026 | Kategori: Ayat-Ayat Cerita

فانطلقا bersama Habibie Burhani (teman seangkatan di Teknik Industri ITB) di Masjid Al-Jabbar, Bandung
فانطلقا bersama Habibie Burhani (teman seangkatan di Teknik Industri ITB) di Masjid Al-Jabbar, Bandung

​Dalam narasi perjalanan epik antara Nabi Musa dan Nabi Khidir yang diabadikan dalam Surat Al-Kahfi, terdapat diksi spesifik yang diulang sebanyak tiga kali, yaitu kata فَانطَلَقَا (Fanthalaqa) yang berarti “maka berjalanlah keduanya”. Kemunculan pertama terjadi pada ayat 71 setelah mereka bersepakat untuk melakukan perjalanan dari tepi pantai. Kemunculan kedua terdapat pada ayat 74 setelah peristiwa perahu, dan kemunculan ketiga pada ayat 77 setelah peristiwa anak muda. Pengulangan ini bukan sekadar jeda naratif, melainkan sebuah instruksi “perpindahan fisik” yang krusial. Secara linguistik, huruf Fa (ف) di depan kata tersebut menunjukkan kesegeraan (at-ta’qib), yang berarti setelah sebuah peristiwa besar atau dialog terjadi, mereka tidak berdiam diri, melainkan langsung bergerak maju untuk melanjutkan perjalanan.

​Secara neurosains spiritual, setiap momen فَانطَلَقَا ini mengaktifkan kerja The Fantastic Four (Dopamin, Serotonin, Oksitosin, dan Endorfin) sebagai sistem pendukung kesehatan mental Nabi Musa. Pada langkah pertama, Dopamin bekerja memberikan motivasi atas rasa ingin tahu terhadap ilmu yang dijanjikan. Ketika ketegangan muncul akibat tindakan Khidir yang paradoks, kadar kortisol (stres) meningkat; namun, instruksi untuk segera berjalan kaki (Fanthalaqa) memicu produksi Serotonin yang berfungsi menstabilkan kembali suasana hati dan memberikan ketenangan. Gerakan fisik yang konsisten dalam perjalanan jauh tersebut juga melepaskan Endorfin untuk meredam rasa lelah dan nyeri fisik, sementara ikatan guru-murid di bawah otoritas wahyu memperkuat Oksitosin, yang menjaga kepercayaan Musa kepada Khidir meskipun logikanya sedang diuji hebat.

​Seandainya perjalanan tersebut dilakukan tanpa فَانطَلَقَا—artinya jika mereka hanya berdiam diri di satu tempat setelah kejadian yang traumatis atau membingungkan—maka yang terjadi adalah ledakan stres sirkular. Tanpa aktivitas fisik (berjalan), hormon kortisol akan mengendap dan menyebabkan anxiety (kecemasan berlebih) atau perenungan negatif yang statis (rumination). Pikiran Nabi Musa akan terjebak pada trauma melihat perahu yang bocor atau nyawa yang hilang tanpa adanya “penyaluran” energi. Tanpa Fanthalaqa, keseimbangan neurotransmitter di otak tidak akan tercapai, sehingga proses belajar (pedagogi) akan terhenti karena beban emosional yang lebih besar daripada daya serap intelektual. Gerakan berjalan adalah terapi biologis yang diperintahkan Al-Qur’an agar jiwa tetap sehat dalam menerima ujian ilmu yang berat.