Nama Syekh Ahmad Mutamakkin dari Pati menempati posisi penting dalam tradisi spiritual dan intelektual Nusantara. Ia dikenang sebagai ulama yang mantap dalam ilmu dan teguh dalam laku, sekaligus simbol tradisi pesantren yang kokoh namun tetap hidup dalam dialog zaman. Haul Mutamakkin menjadi ruang refleksi tentang bagaimana kemapanan tradisi dapat terus berdialog dengan realitas baru. Dalam konteks inilah gagasan Titik Ba menemukan relevansinya sebagai penghubung antara akar lama dan pembacaan kontemporer.
Refleksi tersebut terwujud secara konkret ketika Ahmad Thoha Faz hadir di Kajen, Margoyoso, Pati, pada 6 Juli 2025. Kehadiran ini lahir dari inisiatif KH Muhammad Faeshol Muzammil, Ketua Lembaga Bahtsul Masa’il PWNU Jawa Tengah, yang melihat Titik Ba layak diuji dalam diskursus pesantren. Dukungan penting juga datang dari Prof. Kusmayanto Kadiman, tokoh nasional yang dikenal sebagai mantan Menteri Riset dan Teknologi Republik Indonesia sekaligus mantan Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB), yang menyediakan 100 eksemplar buku Titik Ba sebagai bahan bacaan dan diskusi. Dalam forum itu, Titik Ba dibedah sebagai titik awal kesadaran sebelum huruf dan struktur pengetahuan dibangun, selaras dengan etos pesantren yang menekankan kedalaman ilmu dan integritas berpikir.
Secara etimologis, Mutamakkin (متمكن) berakar dari kata م-ك-ن (makana) yang bermakna mapan dan berakar kuat. Dari akar ini lahir bentuk tamakkana (menjadi kokoh dan menguasai) serta sifat mutamakkin bagi pribadi yang mantap dalam pijakan ilmunya. Dalam konteks Pati, istilah ini merepresentasikan paradigma keilmuan pesantren: keteguhan fondasi sebelum keluasan tafsir.
Lintasan Titik Ba kemudian berlanjut ke ruang yang berbeda ketika Ahmad Thoha Faz hadir di Cibabat, Cimahi, pada 31 Januari 2026 dalam sebuah workshop pendidikan berpikir. Kegiatan ini diinisiasi oleh Ir. H. Edi Sudrajat Ahmad, Koordinator Bidang Pelatihan dan Penjaminan Mutu Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) Kota Cimahi, yang melihat perlunya gagasan konseptual seperti Titik Ba diterjemahkan ke dalam praksis pendidikan. Berbeda dengan Pati yang berakar kuat pada tradisi pesantren, Cimahi menghadirkan konteks komunitas pendidikan formal yang dinamis, kreatif, dan terbuka terhadap inovasi pedagogis.
Di Cimahi, Titik Ba tidak berhenti sebagai wacana reflektif, melainkan bergerak menjadi inspirasi pendidikan berpikir melalui pendekatan konkret. Gagasan ini dipertautkan dengan narasi Ayat-Ayat Cerita (AAC), kerangka berpikir cepat dan lambat, serta implementasi praktis melalui ToSM (Test of Second Mathematics). Aplikasi ToSM Matematika Detik, yang tersedia di Google Play Store, saat ini telah melampaui 100.000 unduhan, sebuah capaian yang menunjukkan bahwa gagasan tersebut tidak hanya hidup di ruang diskusi, tetapi juga menjawab kebutuhan nyata literasi numerasi di lapangan.
Dalam lintasan ini, istilah Mutafannin (متفنن) memperoleh kejelasan maknanya. Kata ini berakar dari ف-ن-ن (fanna) yang bermakna ragam dan cabang, dengan bentuk tafannana yang menunjuk pada kemampuan mengekspresikan ilmu secara variatif dan kreatif. Mutafannin bukan antitesis dari Mutamakkin, melainkan kelanjutannya: kemantapan yang memungkinkan keluasan ekspresi dan keberanian bereksperimen.
Dua peristiwa historis—Pati pada 6 Juli 2025 dan Cimahi pada 31 Januari 2026—memperlihatkan satu lintasan intelektual yang utuh. Di Pati, Titik Ba diuji dalam ruang tradisi pesantren melalui bahtsul masa’il dan dialog keilmuan. Di Cimahi, atas inisiatif Ir. H. Edi Sudrajat Ahmad melalui BMPS Kota Cimahi, Titik Ba bergerak ke ruang operasional pendidikan dan inovasi pedagogis. Dari Mutamakkin menuju Mutafannin, Titik Ba tampil sebagai paradigma integratif: tradisi sebagai akar yang menghunjam kuat, dan kreativitas sebagai cabang yang tumbuh luas. Dalam lintasan inilah iman, ilmu, dan praktik pendidikan bertemu dalam harmoni yang berkelanjutan.