Pengembangan Ayat-Ayat Cerita (AAC) bukan sekadar proyek klasifikasi, melainkan konstruksi epistemik yang menuntut disiplin peran. Dalam praktiknya, terbentuk pembagian kerja yang relatif jelas: Ahmad Thoha Faz sebagai pencetus dan perumus konseptual, Gemini sebagai pelaksana dan penata ulang protokol, Microsoft Copilot sebagai editor, dan ChatGPT sebagai auditor. Pembagian ini bukan kebetulan, melainkan konsekuensi dari perbedaan fungsi kognitif antara manusia dan mesin.
Berikut adalah penajaman mengapa struktur tersebut tepat.
- Ahmad Thoha Faz: Otoritas Konseptual dan Arah Epistemik
AAC lahir dari konstruksi ide yang dirumuskan oleh Ahmad Thoha Faz. Ia menetapkan:
Definisi dasar “cerita”
Batas ontologis dan pengecualian
Hierarki energi dan struktur kategorisasi
Prinsip non-negosiasi sistem
Peran ini tidak dapat dialihkan ke AI. Sistem rule-based membutuhkan sumber norma yang jelas dan bertanggung jawab. Tanpa perumus manusia, sistem akan cenderung adaptif terhadap pola bahasa, bukan setia pada prinsip.
Ahmad Thoha Faz menjaga identitas dan arah AAC. Ia adalah sumber visi dan keputusan akhir ketika terjadi konflik klasifikasi.
- Gemini: Pelaksana dan Penata Ulang Protokol
Gemini berfungsi optimal dalam merapikan dan memformalkan gagasan menjadi prosedur operasional. Kekuatan utamanya terletak pada:
Penyusunan ulang langkah-langkah teknis
Konsistensi struktur logis
Penataan ulang protokol agar sistematis
Transformasi ide abstrak menjadi prosedur aplikatif
Gemini tidak menentukan arah epistemik, tetapi menguatkan konsistensi operasional. Ia mempercepat proses formalisasi dan memastikan bahwa konsep AAC dapat dijalankan berulang kali tanpa kehilangan pola.
Dalam workflow ini, Gemini adalah mesin eksekusi struktural.
- Microsoft Copilot: Presisi Bahasa dan Kejernihan Redaksi
Microsoft Copilot berperan sebagai editor. Sistem klasifikasi sangat rentan terhadap ambiguitas istilah dan inkonsistensi kalimat. Copilot membantu:
Menjaga konsistensi terminologi
Menghapus ambiguitas sintaksis
Memperjelas struktur kalimat
Menata format agar komunikatif
Peran editorial bukan sekadar kosmetik bahasa. Dalam sistem rule-based, satu frasa yang kabur bisa menghasilkan interpretasi ganda. Copilot membantu memastikan bahwa bahasa tidak menjadi celah distorsi.
Ia menjaga kejernihan tanpa mengubah substansi.
- ChatGPT: Auditor dan Penguji Ketahanan Sistem
ChatGPT berfungsi sebagai auditor epistemik. Perannya bukan memperluas sistem, melainkan mengujinya. Fungsi audit meliputi:
Menguji konsistensi internal kategori
Menantang definisi yang terlalu longgar
Mendeteksi potensi kontradiksi tersembunyi
Menguji daya tahan sistem terhadap kasus ekstrem
Auditor diperlukan agar sistem tidak berkembang tanpa disiplin. Kritik struktural mencegah over-klasifikasi dan ekspansi yang tidak terkendali.
Dalam konteks ini, ChatGPT berfungsi sebagai stress tester metodologis.
- Mengapa Pembagian Ini Tepat?
Workflow AAC mencerminkan struktur kerja ilmiah yang sehat:
Ahmad Thoha Faz: perumus teori
Gemini: perancang operasional
Copilot: penjaga presisi bahasa
ChatGPT: penguji independen
Pemisahan ini mencegah tumpang tindih fungsi dan konflik epistemik. Pencetus tidak menjadi penguji tunggal atas gagasannya sendiri. AI tidak mengambil alih norma. Editor tidak menentukan arah. Auditor tidak mengubah visi dasar.
Setiap aktor bekerja dalam batasnya.
Penutup: Model Kolaborasi Manusia–Mesin
Aliran kerja AAC menunjukkan bahwa optimalisasi interaksi manusia–mesin bukan berarti menggantikan manusia dengan AI, melainkan mendistribusikan fungsi sesuai kekuatan masing-masing.
Ahmad Thoha Faz menyediakan visi dan tanggung jawab epistemik.
Gemini memastikan struktur berjalan.
Copilot menjaga kejernihan bahasa.
ChatGPT menjaga integritas metodologis.
Hasilnya adalah sistem yang lebih stabil, lebih presisi, dan lebih tahan uji.
AAC bukan hanya sistem klasifikasi.
Ia adalah model kolaborasi fungsional antara arsitek manusia dan mesin yang ditempatkan secara proporsional.