TEPAT 10.000, APAKAH 1 RAMADHAN?

Redaksi | Dipublikasikan pada 21 February 2026 | Kategori: Titik Ba

Hari ini, kami di rumah belum berpuasa. Tapi si bungsu, Athiyya (kelas 3 SD) sudah berpuasa. Kebetulan dia sedang mengikuti kegiatan pesantren kilat.

Tepat hari ini pula di akun Facebook Ahmad Thoha Faz muncul tulisan “10 rb pengikut”. Dengan 25 ribu postingan, akun saya relatif tidak laku.

Ya, postingan saya terutama #TitikBa. Berat, tidak mudah dicerna. Hanya sedikit orang tertentu yang tertarik. Seleksi alamiah! Oleh karena itu, terima kasih bagi yang berkenan membaca atau berkomentar.

Apa makna 10.000 pengikut? Titik Ba mulai memasuki tahap “mutamakkin”: mengakar kokoh. Istilah itu mengingatkan saya sosok Syaikh Ahmad Mutamakkin, yang dimakamkan di Kajen, Margoyoso, Pati. Pada 6 Juli 2025, saya menjadi pemateri Titik Ba dalam rangka haul sosok sufi besar itu, atas undangan sahabat saya, ketua Lembaga Bahtsul Masa’il PWNU Jawa Tengah, yang kemarin tepat berusia 47 tahun.

Membaca cerita Mbah Mutamakkin, dengan memantik polemik Aqidah Korslet, terasa saya tidak sendirian. Hanya level saya jauh lebih ringan. Akibat ajaran tasawuf yang disampaikannya dianggap kontroversi, apa yang dialami kakek-buyut Kyai Sahal Mahfudh, Kyai Said Aqil Siradj dan Gus Baha itu sungguh sangat berat. Apa yang saya alami bukan apa-apa.

Memasuki bulan Ramadhan, setelah Titik Ba sampai pada tahap “mutamakkin”, lalu apa? Saatnya memikirkan tahap “mutafannin”. Yaitu bagaimana cabang-cabang Titik Ba menghasilkan buah yang beragam dan bermanfaat nyata: #AyatAyatCerita, #MatematikaTitik dan #MatematikaDetik khususnya #ToSM.

Bismillah. [https://pantura.suaramerdeka.com/opini/amp/0616714033/titik-ba-dari-mutamakkin-%D9%85%D8%AA%D9%85%D9%83%D9%86-ke-mutafannin-%D9%85%D8%AA%D9%81%D9%86%D9%86](<Hari ini, kami di rumah belum berpuasa. Tapi si bungsu, Athiyya (kelas 3 SD) sudah berpuasa. Kebetulan dia sedang mengikuti kegiatan pesantren kilat.

Tepat hari ini pula di akun Facebook Ahmad Thoha Faz muncul tulisan “10 rb pengikut”. Dengan 25 ribu postingan, akun saya relatif tidak laku.

Ya, postingan saya terutama #TitikBa. Berat, tidak mudah dicerna. Hanya sedikit orang tertentu yang tertarik. Seleksi alamiah! Oleh karena itu, terima kasih bagi yang berkenan membaca atau berkomentar.

Apa makna 10.000 pengikut? Titik Ba mulai memasuki tahap “mutamakkin”: mengakar kokoh. Istilah itu mengingatkan saya sosok Syaikh Ahmad Mutamakkin, yang dimakamkan di Kajen, Margoyoso, Pati. Pada 6 Juli 2025, saya menjadi pemateri Titik Ba dalam rangka haul sosok sufi besar itu, atas undangan sahabat saya, ketua Lembaga Bahtsul Masa’il PWNU Jawa Tengah, yang kemarin tepat berusia 47 tahun.

Membaca cerita Mbah Mutamakkin, dengan memantik polemik Aqidah Korslet, terasa saya tidak sendirian. Hanya level saya jauh lebih ringan. Akibat ajaran tasawuf yang disampaikannya dianggap kontroversi, apa yang dialami kakek-buyut Kyai Sahal Mahfudh, Kyai Said Aqil Siradj dan Gus Baha itu sungguh sangat berat. Apa yang saya alami bukan apa-apa.

Memasuki bulan Ramadhan, setelah Titik Ba sampai pada tahap “mutamakkin”, lalu apa? Saatnya memikirkan tahap “mutafannin”. Yaitu bagaimana cabang-cabang Titik Ba menghasilkan buah yang beragam dan bermanfaat nyata: #AyatAyatCerita, #MatematikaTitik dan #MatematikaDetik khususnya #ToSM.

Bismillah. https://pantura.suaramerdeka.com/opini/amp/0616714033/titik-ba-dari-mutamakkin-%D9%85%D8%AA%D9%85%D9%83%D9%86-ke-mutafannin-%D9%85%D8%AA%D9%81%D9%86%D9%86>)