Kemarin ada kabar gembira dari sosok santri Pesantren Ilmu Eksakta (PI.E), yaitu mahasiswa Mechanical Engineering, University of Kentucky. Namanya Mas Qil. Semester musim semi ini GPA 4.0 alias “straight A”, dan GPA kumulatif 3.9. Guru mana yang tidak bangga?
Jarak PI.E di Tegal, di Indonesia, ke University of Kentucky, di Lexington, Kentucky, sekitar 16.000 kilometer. Dengan laju rotasi bumi sekitar 1.600 kilometer per jam, jarak Tegal - Lexington dapat ditempuh selama 10 jam. Jarak yang sangat jauh, tapi dengan fasilitas Zoom jarak menjadi tidak begitu berarti.
Sebenarnya jadwal matematika, atau tepatnya kalkulus termasuk multivariable calculus, di Mechanical Engineering, University of Kentucky, sudah padat. Lalu apa yang saya ajarkan?
Mas Qil ialah sosok yang cenderung berpikir serba cepat. Itu saya ketahui sejak dia masih belajar di SMA Semesta di Semarang. Setiap soal seringkali dijawabnya dengan begitu cepat.
Apa yang saya lakukan? Saya membimbing dia berpikir lebih lambat. Vektor gradien selalu tegak lurus kurva ketinggian (contour). Mengapa? Pertanyaan itu harus dijawab sederhana mungkin dengan gambar. Lalu dilanjutkan dengan pertanyaan mengapa, mengapa, dan mengapa lainnya.
Berpikir cepat penting. Namun, berpikir cepat tanpa dasar berarti tergesa-gesa. Mengapa 1+1 dijawab dengan 2, tidak dibiarkan tetap 1+1? Bukankah 1+1 sama dengan 1+1?
1 + 1 berarti kita menamai 2 titik dan juga hubungan antara dua titik tersebut. Ada 2 titik yang diberi nama 1. Ada hubungan yang diberi tanda “+”. Otak tidak menyukai keruwetan. Satu titik apa yang merangkum informasi ruwet tersebut? Titik yang diberi nama 2.
Itulah Matematika Titik. Apa tujuan bermatematika? Mengasah kemampuan berpikir cepat dan lambat, dan menjauhkan diri dari berpikir tergesa-gesa.
Apa tujuan matematika? Membiasakan sikap tidak tergesa-gesa (لا تعجل). Itu merupakan ikhtiar kita mengasah sikap terbaik dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.