Artikel Kategori: Ayat-Ayat Cerita

TIBA-TIBA "AYAT-AYAT CERITA", BENARKAH ?

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Perhatikan, posisi Ayat-Ayat Cerita (AAC) dalam perspektif keutuhan.
Perhatikan, posisi Ayat-Ayat Cerita (AAC) dalam perspektif keutuhan.

Mungkin sekilas tampak sebagai sikap inkonsisten. Ketika sedang berfokus pada ToSM Matematika Detik, saya seolah meloncat ke Ayat-Ayat Cerita (AAC). Tanpa perspektif keutuhan memang itulah yang tampak.

Sebenarnya tidak demikian. AAC dirumuskan adalah sebagai fondasi berpikir, sedangkan ToSM Matematika Detik adalah tentang Berpikir cepat.

Ketika menawarkan ToSM, saya merasakan sikap apati dan bahkan alergi dari masyarakat muslim. “Matematika tidak akan menjadi pertanyaan di alam kubur,” pernyataan semacam itu begitu mudah terdengar dari para agamawan. Bagi masyarakat agamis seperti Indonesia, adakah yang lebih otoritatif daripada mereka yang selalu bergamis?

HARUN MENYATAKAN يَا ابْنَ أُمَّ, MENGAPA HABIL TIDAK?

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

PSIKOLOGI KONFLIK PERSAUDARAAN DALAM AL-QUR’AN

Kisah-kisah persaudaraan dalam Al-Qur’an—seperti tragedi Qabil dan Habil versus krisis Musa dan Harun—menawarkan wawasan mendalam tentang psikologi konflik. Ketika dihadapkan pada amarah saudara sedarah, Harun memilih strategi yang secara psikologis intim: memanggil Musa dengan يَا ابْنَ أُمَّ (“wahai putra ibuku”). Ironisnya, Habil tidak menggunakan panggilan emosional serupa kepada Qabil. Perbedaan fundamental ini bukan sekadar pilihan kata, melainkan cerminan dari kualitas amarah agresor dan kondisi hubungan yang sudah terjalin.

MANAJEMEN AMARAH SAUDARA SEDARAH: PSIKOLOGI DI BALIK KISAH QABIL - HABIL VERSUS HARUN - MUSA

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Al-Qur’an menyajikan dua studi kasus kontras mengenai manajemen konflik dan kemarahan antara saudara sedarah: tragedi Qabil dan Habil yang berakhir dengan pembunuhan, dan krisis Musa dan Harun yang berakhir dengan rekonsiliasi. Analisis psikologis dari kedua kisah ini mengungkapkan bahwa kualitas sumber amarah dan strategi penanganan konflik oleh korbanlah yang menentukan nasib hubungan tersebut.

KEMARAHAN QABIL: MANIFESTASI EGO YANG PATOLOGIS

Kemarahan yang melanda Qabil bukanlah kemarahan yang dibenarkan atau reaktif, melainkan kemarahan patologis yang berakar pada penyakit hati yang dalam: kedengkian (ḥasad).

DEADLINE NISHFU SYA'BAN 1447 HIJRIYAH

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Ahmad Thoha Faz (kiri) bersama Hakan dan Alif yang sama-sama memegang kitab Amtsilatut Tashrifiyyah.
Ahmad Thoha Faz (kiri) bersama Hakan dan Alif yang sama-sama memegang kitab Amtsilatut Tashrifiyyah.

“Kapan saya mendapatkan lembar kerja Ayat-Ayat Cerita (AAC)?”

Pertanyaan itu disampaikan Hakan kepada Ustadz Mufrodi, pengasuh Rumah Tahfizh Al-Furqon sekaligus moderator Tadarus AAC yang rutin diselenggarakan secara online berpusat di Pesantren Ilmu Eksakta (PI.E).

“Paling lambat besok,” jawab Ustadz Mufrodi yang saat ini juga diberi amanat sebagai kepala sekolah SMP IT Elmuna-vie, Depok, Pangkah, Kabupaten Tegal.

ALAT TULIS DAN MAKAN - MINUM OUTING CLASS TADARUS AAC

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Peserta outing class Tadarus AAC sedang menunjukkan buku dan pulpen pemberian hamba Allah.
Peserta outing class Tadarus AAC sedang menunjukkan buku dan pulpen pemberian hamba Allah.

Rumah Tahfizh Gemilang (RTG) Al Furqon berlokasi di Jalan Gatotkaca No. 4, Slerok, Kota Tegal. Para santri perlu berjalan kaki, atau bersepeda, untuk menempuh jarak 2,6 kilometer ke Pesantren Ilmu Eksakta (PI.E). Lumayan menguras energi.

Oleh karena itu, ketika kami menawarkan program outing class bagi para santri Rumah Tahfizh Gemilang, kami memikirkan makan- minum. Saya mengajak istri saya, yang sedang merintis usaha kuliner “Food City”, untuk turut menyediakan makanan ringan bergizi gratis.

TAFSIR AL-MISHBAH DAN TADARUS AYAT-AYAT CERITA

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Tepat pada peringatan hari Kartini, 21 April 2024, tiga sosok dokter perempuan membawa Tafsir Al Mishbah ke PI.E
Tepat pada peringatan hari Kartini, 21 April 2024, tiga sosok dokter perempuan membawa Tafsir Al Mishbah ke PI.E

21 April 2024, satu paket berisi 12 jilid Tafsir Al Mishbah datang ke Pesantren Ilmu Eksakta (PI.E). Dibawa langsung Dokter Endang Nuryanto dan rombongan.

Mengapa PI.E meluaskan jangkauan perhatian ke tafsir al-Qur’an?

MARKETING REVOLUTION OLEH IBLIS

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

“Marketing Revolution”: Iblis versus Tung Desem Waringin
"Marketing Revolution": Iblis versus Tung Desem Waringin

Dalam dunia pemasaran, Tung Desem Waringin dikenal sebagai pelopor strategi komunikasi yang ekstrem namun efektif. Ia menekankan bahwa orang tidak membeli karena logika, tetapi karena emosi—terutama rasa takut, rasa kurang, dan keinginan untuk menjadi lebih. Strategi ini dikenal sebagai Marketing Revolution, sebuah pendekatan yang menggugah emosi, membangun kredibilitas, dan menutup penjualan dengan positioning yang kuat. Menariknya, strategi ini secara teknis tercermin dalam dua tahap godaan Iblis terhadap Adam dan Hawa dalam QS. Al-A’raf ayat 20–21. Meski tujuannya destruktif, tekniknya adalah revolusi komunikasi yang patut dikaji—agar bisa dikenali, diwaspadai, dan dibalikkan untuk kebaikan.

USKUN WA KUL (اسكن و كل): KERANGKA UNIVERSAL KEBUTUHAN MAKHLUK HIDUP

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

“Dan Kami berfirman: ‘Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu, dan janganlah kamu dekati pohon ini, sehingga kamu termasuk orang-orang zalim.’”

— QS. Al-Baqarah: 35

Ayat ini bukan sekadar narasi teologis, melainkan formulasi biologis yang mencerminkan dua kebutuhan paling mendasar dari semua entitas hidup: kebutuhan akan tempat eksistensial dan kebutuhan akan asupan energi. Dua kata kerja perintah dalam ayat ini—اسكن (tinggallah) dan كلا (makanlah kalian berdua)—secara eksplisit merangkum pola kebutuhan yang berlaku universal, bahkan pada entitas biologis paling sederhana seperti virus.

PENOLAKAN (أَبَىٰ) MENDAHULUI PEMBENARAN (ٱسْتَكْبَرَ): SIKAP IBLIS DALAM QS. AL-BAQARAH (2):34

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Ayat-Ayat Cerita (AAC) sudah memasuki Paket #2
Ayat-Ayat Cerita (AAC) sudah memasuki Paket #2

Dalam QS. Al-Baqarah (2):34, Allah menggambarkan respons Iblis terhadap perintah sujud kepada Adam dengan dua kata kunci yang sarat makna psikologis dan epistemik: abā (أَبَىٰ) dan istakbara (ٱسْتَكْبَرَ). Ayat ini bukan sekadar narasi keengganan, melainkan dokumentasi urutan mental yang presisi—di mana penolakan mendahului pembenaran. Ini bukan hanya urutan linguistik, tetapi juga urutan kognitif dan neurologis yang konsisten.