TIBA-TIBA "AYAT-AYAT CERITA", BENARKAH ?
Mungkin sekilas tampak sebagai sikap inkonsisten. Ketika sedang berfokus pada ToSM Matematika Detik, saya seolah meloncat ke Ayat-Ayat Cerita (AAC). Tanpa perspektif keutuhan memang itulah yang tampak.
Sebenarnya tidak demikian. AAC dirumuskan adalah sebagai fondasi berpikir, sedangkan ToSM Matematika Detik adalah tentang Berpikir cepat.
Ketika menawarkan ToSM, saya merasakan sikap apati dan bahkan alergi dari masyarakat muslim. “Matematika tidak akan menjadi pertanyaan di alam kubur,” pernyataan semacam itu begitu mudah terdengar dari para agamawan. Bagi masyarakat agamis seperti Indonesia, adakah yang lebih otoritatif daripada mereka yang selalu bergamis?