Artikel Kategori: Ayat-Ayat Cerita

QUO VADIS TADARUS AYAT-AYAT CERITA ?

| Oleh: Redaksi

Webinar Nasional Ayat-Ayat Cerita berpusat di Bekasi, Jawa Barat pada 16 Februari - 10 Maret 2024
Webinar Nasional Ayat-Ayat Cerita berpusat di Bekasi, Jawa Barat pada 16 Februari - 10 Maret 2024

Perjalanan Ayat-Ayat Cerita (AAC) dimulai sebelum wabah Covid-19 masuk Indonesia. Lebih tepatnya ketika keluar dari PNS pada 2018 dan beberapa kali saya mengisi kajian di penerbit al-Qur’an Cordoba, Bandung.

Tidak memiliki jamaah di dunia nyata, dengan memanfaatkan “berkah” wabah Covid-19 yang mengurung pergerakan manusia, saya berbagi konten AAC melalui Facebook. Satu tema telah kami selesaikan, yaitu tentang pertemuan dua lautan (مجمع البحرين) Musa dan Khidhir. Bahkan bertepatan dengan peringatan hari lahir NU, 28 Februari 2021, pengajian AAC berlangsung selama 7 jam non-stop, dari 05:00 - 12:00 WIB.

AKHIRAT SEBAGAI VARIABEL TERIKAT: MEMBACA TIGA CODE "BISMI RABBIKA"

| Oleh: Redaksi

Dalam kerangka tiga serangkai code yang menjadi fondasi epistemologi Mushaf Ayat-Ayat Cerita, alam semesta (Code 3) adalah variabel bebas — x, realitas yang terhampar dan menunggu untuk dibaca. Kesadaran manusia (Code 2) adalah fungsi darinya: y = f(x) — cara manusia memahami, memaknai, dan merespons alam yang ia tempati. Kalam ilahi (Code 1) adalah fungsi dari kesadaran itu: z = g(y) — panduan yang Allah turunkan tepat untuk manusia dengan kesadaran seperti itu, dalam alam seperti ini. Ketiga code bukan tiga hal yang terpisah; mereka adalah satu sistem yang saling bergantung, di mana setiap lapisan tumbuh dari lapisan sebelumnya dalam urutan yang tidak dapat dibalik. Dan hasil akhir dari seluruh pembacaan itu — bagaimana manusia men-decode x, y, dan z sepanjang hidupnya — itulah yang menentukan akhirat. Akhirat adalah variabel terikat: konsekuensi dari pembacaan, bukan entitas yang berdiri sendiri di luar sistem.

RESTORAN WARTEG “HAJI THOHA” DI PLAZA HAJI ALQOSBAH, BANDUNG: TEPATKAH SECARA BRANDING?

| Oleh: Redaksi

Replika Ka’bah di Plaza Haji alQosbah, Gedebage, Bandung
Replika Ka’bah di Plaza Haji alQosbah, Gedebage, Bandung

Di kawasan timur Bandung, sebuah ruang baru sedang tumbuh sebagai simpul kegiatan religius, sosial, dan intelektual umat. Tempat itu adalah Plaza Haji alQosbah—sebuah kompleks yang dirancang untuk menghadirkan ekosistem pendidikan ibadah haji, aktivitas komunitas, serta jaringan literasi Al-Qur’an.

Di tengah ekosistem tersebut direncanakan hadir sebuah tempat makan dengan nama yang sederhana namun memancing rasa ingin tahu: Restoran Warteg “Haji Thoha.”

MANA YANG LEBIH SAKRAL DAN BERTUAH, BULAN RAMADHAN ATAU ORANGTUA?

| Oleh: Redaksi

Bapak (KH A Zainuddin Shiddiq) menyambut driver belanja online
Bapak (KH A Zainuddin Shiddiq) menyambut driver belanja online

Sejak awal bulan Ramadhan, yaitu ketika akun Facebook tepat mencatat 10.000 pengikut, saya terus bereksperimen merumuskan Protokol Penelusuran #AyatAyatCerita (AAC). Termasuk akhirnya menemukan permutasi terbaik: Gemini, Microsoft Copilot dan chatGPT.

Itu bukan pekerjaan dadakan. Sejak sebelum wabah Covid-19, yaitu sekitar satu atau dua tahun setelah dipecat dari PNS, saya sudah mulai merumuskan AAC. Begitu rumit, menurut saya, itu hanya mungkin dilakukan oleh PAS (Pegawai Alam Semesta). Perlu totalitas: waktu dan fokus.

RULE OF ONE MAQRA’ (ROM) SEBAGAI FONDASI ARSITEKTUR DATA AYAT-AYAT CERITA (AAC): MENGAPA DAN BAGAIMANA?

| Oleh: Redaksi

​Dalam proyek besar penyusunan Mushaf AAC, tantangan metodologis terbesar bukanlah pada pencarian teks, melainkan pada penetapan batas narasi yang objektif. Tanpa parameter yang baku, segmentasi cerita akan menjadi cair dan terfragmentasi. Rule of One Maqra’ (ROM) hadir sebagai solusi arsitektur data yang kokoh, mengubah cara kita memandang Al-Qur’an dari sekadar teks menjadi infrastruktur data yang terukur.

​MENGAPA ROM? (Logika Standardisasi & Desain Sistem)

​Dalam arsitektur data, konsistensi standar adalah panglima. Pemilihan Maqra’ (yang secara teknis berhimpit dengan tanda Ruku’) sebagai unit makro bukan didasarkan pada selera, melainkan pada keunggulan fungsionalnya sebagai Container Absolut:

ALIRAN KERJA AYAT-AYAT CERITA (AAC): OPTIMALISASI INTERAKSI MANUSIA–MESIN

| Oleh: Redaksi

Pengembangan Ayat-Ayat Cerita (AAC) bukan sekadar proyek klasifikasi, melainkan konstruksi epistemik yang menuntut disiplin peran. Dalam praktiknya, terbentuk pembagian kerja yang relatif jelas: Ahmad Thoha Faz sebagai pencetus dan perumus konseptual, Gemini sebagai pelaksana dan penata ulang protokol, Microsoft Copilot sebagai editor, dan ChatGPT sebagai auditor. Pembagian ini bukan kebetulan, melainkan konsekuensi dari perbedaan fungsi kognitif antara manusia dan mesin.

Berikut adalah penajaman mengapa struktur tersebut tepat.

THE FANTASTIC FOUR DALAM فَانطَلَقَا KHIDHIR - MUSA

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

فانطلقا bersama Habibie Burhani (teman seangkatan di Teknik Industri ITB) di Masjid Al-Jabbar, Bandung
فانطلقا bersama Habibie Burhani (teman seangkatan di Teknik Industri ITB) di Masjid Al-Jabbar, Bandung

​Dalam narasi perjalanan epik antara Nabi Musa dan Nabi Khidir yang diabadikan dalam Surat Al-Kahfi, terdapat diksi spesifik yang diulang sebanyak tiga kali, yaitu kata فَانطَلَقَا (Fanthalaqa) yang berarti “maka berjalanlah keduanya”. Kemunculan pertama terjadi pada ayat 71 setelah mereka bersepakat untuk melakukan perjalanan dari tepi pantai. Kemunculan kedua terdapat pada ayat 74 setelah peristiwa perahu, dan kemunculan ketiga pada ayat 77 setelah peristiwa anak muda. Pengulangan ini bukan sekadar jeda naratif, melainkan sebuah instruksi “perpindahan fisik” yang krusial. Secara linguistik, huruf Fa (ف) di depan kata tersebut menunjukkan kesegeraan (at-ta’qib), yang berarti setelah sebuah peristiwa besar atau dialog terjadi, mereka tidak berdiam diri, melainkan langsung bergerak maju untuk melanjutkan perjalanan.

"OUT OF THE BOX": AYAT-AYAT CERITA DAN REPLIKA KA'BAH DI PENERBIT AL-QOSBAH

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

“Out of the box,” kata Shabbany Shodaq, pemimpin tertinggi di Penerbit alQosbah, setelah mendengar presentasi gambar besar mushaf Ayat-Ayat Cerita (AAC).

Bagi Shodaq, gagasan AAC bukan hal baru. Saya telah menyampaikan hal itu sejak beliau masih memimpin Penerbit Cordoba. Tapi AAC memang terus berevolusi semakin tajam.

Selain out the box, AAC adalah the great box. Memetakan 6.236 ayat al-Qur’an ke dalam 7 tipe cerita adalah tugas besar. Sejak awal menyadari itu tugas sebagai PNS (Pegawai Ngalam Semesta), sehingga selalu ada ada alasan untuk selalu antusias.

AYAT-AYAT "CERITA" LEBIH TEPAT DARIPADA "SEJARAH" MAUPUN "KISAH", MENGAPA?

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Tipe Mushaf AAC
Tipe Mushaf AAC

​Penggunaan istilah Cerita jauh lebih tepat daripada “Sejarah” karena membebaskan ayat-ayat Al-Qur’an dari belenggu kronologi masa lalu yang statis. Secara operasional, istilah “Sejarah” cenderung mengunci ingatan pembaca pada peristiwa yang sudah selesai dan tidak terulang kembali. Sebaliknya, Ayat-Ayat Cerita (AAC) memosisikan teks suci sebagai sebuah skenario dinamis dengan pola konflik yang bersifat universal dan dapat berulang (repeatable pattern) di masa kini maupun masa depan. Melalui kacamata cerita, pembaca tidak lagi menjadi pengamat riwayat yang pasif, melainkan seorang analis yang membedah struktur Karakter dan Konflik untuk menemukan solusi operasional dalam setiap skenario kehidupan.

PENULIS BESTSELLER "SEKOLAH MENYENANGKAN"

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Sudah sejak 2007, melalui Titik Ba terbitan Mizan, Pak Edi Sudrajat Ahmad tergerak ingin bersilaturahim ke Tegal. Beliau tinggal di Cimahi.

Ternyata alumni Manajemen Kehutanan IPB itu seorang penulis buku bestseller. Bukunya, yaitu “Sekolah yang Menyenangkan” diterbitkan Nuansa Cendekia pada Juli 2012 dan telah dicetak ulang hingga cetakan ke-4 pada 2019.

Pak Edi sangat terinspirasi Titik Ba. Itu terlihat pada draft buku ke-2 yang diberi judul “Sekolah yang Menyenangkan dan Mengadabkan. Bab III, yaitu Lima Prinsip Penyelenggaraan Sekolah Model Mutafannin”, berisi rangkuman lima prinsip universal yang diperkenalkan dalam buku Titik Ba.