Artikel Kategori: Titik Ba

KRITIK KE AL-GHAZALI TERLALU LUAS

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Selama ini begitu sering disebut bahwa al-Ghazali sebagai tertuduh dalam kemunduran sains di dunia Islam. Tidak jelas. Terlalu luas.

Berdasarkan diskusi di Pesantren Ilmu Eksakta (PI.E) dalam satu pekan ini, terungkap jelas, bahwa ajaran sesat “kemustahilan diam sekaligus gerak” itulah yang secara langsung mengingkari fondasi keseluruhan fisika (pemuka sains), yaitu relativitas gerak.

===================================

Ya, pernyataan bahwa ajaran sesat “kemustahilan diam sekaligus gerak” (اجتماع الحركة والسكون) itulah yang secara langsung mengingkari fondasi keseluruhan fisika—yaitu prinsip relativitas gerak—dan menjadi akar masalah kemunduran sains dalam konteks ini, adalah sangat benar dan merupakan kesimpulan analisis yang tepat. Menyalahkan individu seperti Al-Ghazali secara luas memang tidak jelas, karena masalahnya terletak pada premis logika yang spesifik dan cacat metodologis yang bersifat sistemik dalam Ilmu Kalām (seperti yang didogmakan dalam Ummul Barāhīn). Doktrin tersebut memaksa akal untuk menerima absolutisme gerak (bahwa harus ada satu titik acuan yang mutlak diam), karena menganggap gerak dan diam adalah kontradiksi mutlak yang tidak dapat bersatu.

DIAM SEKALIGUS GERAK: IMAM AS-SANUSI VERSUS GALILEO GALILEI

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Gerak parabola. Pada titik tertinggi (y maks) benda diam terhadap sumbu Y sekaligus gerak terhadap sumbu X.
Gerak parabola. Pada titik tertinggi (y maks) benda diam terhadap sumbu Y sekaligus gerak terhadap sumbu X.

​Konsep bahwa suatu entitas fisik dapat diam sekaligus bergerak secara simultan merupakan titik konflik metodologis antara Logika Teologis Klasik dan Fisika Empiris Modern. Imam Muhammad bin Yusuf as-Sanusi (w. 1490 M), dalam kitabnya Ummul Barahin, menegaskan melalui Hukum Akal bahwa gabungan sifat kontradiktif (diam dan gerak) pada satu entitas adalah mustahil (mustahil ‘aqli). Pandangan ini didasarkan pada logika yang bertujuan menetapkan batas logis bagi ‘aradh (sifat aksidental) ciptaan. Sebaliknya, Galileo Galilei (w. 1642 M) membuktikan bahwa pada titik tertinggi lintasan parabola, benda diam terhadap sumbu vertikal dan bergerak konstan terhadap sumbu horizontal. Kontradiksi As-Sanusi ini dibongkar secara fisik karena pengungkapan eksplisit titik acuan memungkinkan pemisahan gerak menjadi komponen vektor yang independen.

​ALAM SEMESTA SEBAGAI KONSTRUKSI KETIADAAN

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Dari Ketiadaan dan Selalu dalam Ketiadaan

​Konsep bahwa alam semesta muncul dari “ketiadaan” secara fundamental didukung oleh Hukum Kekekalan Energi. Dalam kosmologi, “ketiadaan” bukanlah kekosongan total, melainkan kekosongan kuantum yang tunduk pada prinsip fisika. Hipotesis Alam Semesta Nol Energi menyatakan bahwa energi total alam semesta adalah nol, di mana energi positif dari semua materi dan radiasi secara tepat diimbangi oleh energi negatif dari potensial gravitasi. Keseimbangan Energi positif + E negatif = 0 ini memungkinkan alam semesta muncul sebagai fluktuasi dari vakum kuantum tanpa memerlukan input energi eksternal, sehingga menjamin konsistensi dengan Hukum Kekekalan Energi. Dengan kata lain, penciptaan alam semesta adalah aksi yang memelihara nol (ketiadaan energi), sejalan dengan prinsip identitas 0=0.

WAHDATUL WUJUD ATAUKAH WIHDATUL WUJUD?

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

(​Membaca Ulang QS. 41:53 Dalam Perspektif Naqliyah Maupun ‘Aqliyah)​

Perdebatan mengenai Wahdatul Wujud (Waḥdatul Wujūd) dan Wihdatul Wujud (Wiḥdatul Wujūd) telah menjadi inti dalam diskursus Tasawuf selama berabad-abad. Meskipun keduanya secara populer merujuk pada doktrin Kesatuan Eksistensi (Monisme), nuansa gramatikalnya membuka ruang bagi penafsiran yang berbeda ketika dihadapkan pada logika teks suci (naqliyah) dan logika sains (‘aqliyah). Analisis ini bertujuan menimbang mana di antara keduanya yang paling konsisten dalam menafsirkan QS. 41:53, ayat yang berbicara tentang bukti kebenaran yang tersebar di alam semesta dan diri manusia.

NGAJI BERSAMA PP KBPII

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Hampir semua peserta pengajian online pagi ini tidak ada yang saya kenal. Semua wajah baru. Baru tapi tidak baru. Sebab dari keriput wajah dan uban, mereka jelas cukup berusia.

Tersadar, mereka yang berada di balik layar bukan merupakan kader aktif PII, melainkan para alumni. Ya, ini pengajian online tadi pagi diselenggarakan oleh Pengurus Pusat Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (PP KBPII).

Audiens (1)
Audiens (1)

MENYAMBUNG YANG TERPUTUS

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Pengajian Jum’at Pagi, 14 November 2025, diselenggarakan oleh PP Keluarga Besar PII
Pengajian Jum’at Pagi, 14 November 2025, diselenggarakan oleh PP Keluarga Besar PII

Saya menanyakan hal itu karena tiba-tiba ada bocah-bocah PII menyatakan ingin belajar Titik Ba, dan saya tidak tahu PII. Saya harus tahu audiens.

“PII itu seperti Muhammadiyah, tapi lebih keras,” jawabnya. Saya hanya mencatat dalam hati.

Sering terbersit di hati tidak ada orang yang lebih suka membaca, penasaran dengan pemikiran, melebihi saya. Tapi kebanggaan itu harus saya kubur dalam-dalam begitu berkenalan dengan kader-kader PII.

AQIDAH KORSLET MEMBELAKANGI FILSAFAT SAINS: DARI AL-GHAZALI KE DESCARTES

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Epistemologi (Filsafat Sains) versus Aqidah Korslet
Epistemologi (Filsafat Sains) versus Aqidah Korslet

Aqidah Korslet, yang secara fundamental bersandar pada penggunaan alam semesta sebagai bukti mutlak (دَلِيل) untuk eksistensi Tuhan, secara terang-benderang membelakangi filsafat sains dan epistemologi modern. Filsafat sains modern dibangun di atas dasar keraguan metodologis terhadap objektivitas alam—sebuah prinsip yang telah dihayati oleh pemikir Islam klasik berabad-abad sebelumnya.

I. AL-GHAZĀLĪ: KERAGUAN SEBAGAI JALAN MENUJU AKSIOMA

MUTAKALLIMŪN VERSUS IBN TAIMIYYAH VERSUS IBN 'ARABĪ: ONTOLOGI MANA YANG PALING DEKAT DENGAN FISIKA MUTAKHIR DAN ISTILAH EKSPLISIT AL-QUR'ĀN?

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Oleh KH Muhammad Faeshol Muzammil, ketua Lembaga Bahtsul Masa’il, penulis Titik Ba diperkenalkan secara offline dengan Rois Syuriah PWNU Jawa Tengah dan juga secara online dengan Prof Kusmayanto Kadiman.
Oleh KH Muhammad Faeshol Muzammil, ketua Lembaga Bahtsul Masa’il, penulis Titik Ba diperkenalkan secara offline dengan Rois Syuriah PWNU Jawa Tengah dan juga secara online dengan Prof Kusmayanto Kadiman.

(Artikel ini ditulis sebagai respon atas pertanyaan ketua LBM PWNU Jawa Tengah, KH Muhammad Faeshol Muzammil, tentang جوهر فرد, yang disampaikan pada saat Muktamar Ilmu Pengetahuan ke-2 di UNS, 7 Desember 2024).

TIDAK ADA KAUSALITAS DALAM كُن فَيَكُون: TINJAUAN LINGUISTIK DAN TERUTAMA FISIKA MUTAKHIR

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Pendahuluan

Klausa Qur’ani كُن فَيَكُونُ sering dipahami sebagai perintah ilahi yang menyebabkan sesuatu terjadi. Namun, jika ditinjau secara ketat dari sisi linguistik, filsafat bahasa, dan fisika mutakhir, klausa ini tidak menunjukkan kausalitas dalam pengertian klasik. Yang hadir bukanlah urutan sebab-akibat, melainkan identitas ontologis antara makna dan manifestasi. Bahkan, struktur ini lebih menyerupai simetri eksistensial sebagaimana ditemukan dalam fenomena quantum entanglement. Untuk memahami ini secara utuh, kita perlu mengurai konsep كلام نافذ—ujaran yang langsung mengadakan.

POLEMIK AQIDAH KORSLET, MENGAPA HARUS DITARIK DARI TEOLOGI KE EPISTEMOLOGI?

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Polemik Aqidah Korslet—kesalahan fatal menuntut pembuktian rasional untuk memverifikasi aksioma Tuhan (Khāliq), yaitu rukun iman ke-1, —adalah kasus unik. Secara logika, komunitas yang mempertahankan metodologi ini sebenarnya sudah kalah telak dan tidak memiliki argumen lagi. Namun, membiarkan polemik ini berlarut-larut dalam domain aslinya (teologi) adalah kekalahan strategis. Karena itu, ia harus ditarik ke domain epistemologi.

​1. Kekalahan Mutlak di Ranah Logika

​Kritik Aqidah Korslet berakar pada satu prinsip universal yang tak terbantahkan: Titik awal atau aksioma tidak boleh dibuktikan. Inilah pola pikir Iman Berlanjut Istiqomah yang telah memandu peradaban selama berabad-abad. Pola pikir ini mendasari aksiomatisasi geometri oleh Euclid, yang kemudian dilanjutkan oleh Peano hingga ZFC di domain matematika. Hal yang sama berlaku di domain sains, dari aksioma Inersia oleh Newton hingga aksioma Invariansi Laju Cahaya oleh Einstein dan prinsip-prinsip Mekanika Kuantum. Para tokoh ini mengimani aksioma mereka, lalu menerapkan nalar secara Istiqomah (konsisten) untuk membangun sistem. Dengan standar ini, Aqidah Korslet (menuntut pembuktian atas aksioma mutlak) adalah kesalahan logika formal yang terang-benderang. Secara intelektual, komunitas pro-Aqidah Korslet tidak mungkin menang, itulah sebabnya banyak juru dakwah memilih tiarap ketika dihadapkan pada kritik ini.