Artikel Kategori: Titik Ba

WAHDATUL WUJUD ATAUKAH WIHDATUL WUJUD?

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

(​Membaca Ulang QS. 41:53 Dalam Perspektif Naqliyah Maupun ‘Aqliyah)​

Perdebatan mengenai Wahdatul Wujud (Waḥdatul Wujūd) dan Wihdatul Wujud (Wiḥdatul Wujūd) telah menjadi inti dalam diskursus Tasawuf selama berabad-abad. Meskipun keduanya secara populer merujuk pada doktrin Kesatuan Eksistensi (Monisme), nuansa gramatikalnya membuka ruang bagi penafsiran yang berbeda ketika dihadapkan pada logika teks suci (naqliyah) dan logika sains (‘aqliyah). Analisis ini bertujuan menimbang mana di antara keduanya yang paling konsisten dalam menafsirkan QS. 41:53, ayat yang berbicara tentang bukti kebenaran yang tersebar di alam semesta dan diri manusia.

NGAJI BERSAMA PP KBPII

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Hampir semua peserta pengajian online pagi ini tidak ada yang saya kenal. Semua wajah baru. Baru tapi tidak baru. Sebab dari keriput wajah dan uban, mereka jelas cukup berusia.

Tersadar, mereka yang berada di balik layar bukan merupakan kader aktif PII, melainkan para alumni. Ya, ini pengajian online tadi pagi diselenggarakan oleh Pengurus Pusat Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (PP KBPII).

Audiens (1)
Audiens (1)

MENYAMBUNG YANG TERPUTUS

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Pengajian Jum’at Pagi, 14 November 2025, diselenggarakan oleh PP Keluarga Besar PII
Pengajian Jum’at Pagi, 14 November 2025, diselenggarakan oleh PP Keluarga Besar PII

Saya menanyakan hal itu karena tiba-tiba ada bocah-bocah PII menyatakan ingin belajar Titik Ba, dan saya tidak tahu PII. Saya harus tahu audiens.

“PII itu seperti Muhammadiyah, tapi lebih keras,” jawabnya. Saya hanya mencatat dalam hati.

Sering terbersit di hati tidak ada orang yang lebih suka membaca, penasaran dengan pemikiran, melebihi saya. Tapi kebanggaan itu harus saya kubur dalam-dalam begitu berkenalan dengan kader-kader PII.

AQIDAH KORSLET MEMBELAKANGI FILSAFAT SAINS: DARI AL-GHAZALI KE DESCARTES

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Epistemologi (Filsafat Sains) versus Aqidah Korslet
Epistemologi (Filsafat Sains) versus Aqidah Korslet

Aqidah Korslet, yang secara fundamental bersandar pada penggunaan alam semesta sebagai bukti mutlak (دَلِيل) untuk eksistensi Tuhan, secara terang-benderang membelakangi filsafat sains dan epistemologi modern. Filsafat sains modern dibangun di atas dasar keraguan metodologis terhadap objektivitas alam—sebuah prinsip yang telah dihayati oleh pemikir Islam klasik berabad-abad sebelumnya.

I. AL-GHAZĀLĪ: KERAGUAN SEBAGAI JALAN MENUJU AKSIOMA

MUTAKALLIMŪN VERSUS IBN TAIMIYYAH VERSUS IBN 'ARABĪ: ONTOLOGI MANA YANG PALING DEKAT DENGAN FISIKA MUTAKHIR DAN ISTILAH EKSPLISIT AL-QUR'ĀN?

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Oleh KH Muhammad Faeshol Muzammil, ketua Lembaga Bahtsul Masa’il, penulis Titik Ba diperkenalkan secara offline dengan Rois Syuriah PWNU Jawa Tengah dan juga secara online dengan Prof Kusmayanto Kadiman.
Oleh KH Muhammad Faeshol Muzammil, ketua Lembaga Bahtsul Masa’il, penulis Titik Ba diperkenalkan secara offline dengan Rois Syuriah PWNU Jawa Tengah dan juga secara online dengan Prof Kusmayanto Kadiman.

(Artikel ini ditulis sebagai respon atas pertanyaan ketua LBM PWNU Jawa Tengah, KH Muhammad Faeshol Muzammil, tentang جوهر فرد, yang disampaikan pada saat Muktamar Ilmu Pengetahuan ke-2 di UNS, 7 Desember 2024).

TIDAK ADA KAUSALITAS DALAM كُن فَيَكُون: TINJAUAN LINGUISTIK DAN TERUTAMA FISIKA MUTAKHIR

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Pendahuluan

Klausa Qur’ani كُن فَيَكُونُ sering dipahami sebagai perintah ilahi yang menyebabkan sesuatu terjadi. Namun, jika ditinjau secara ketat dari sisi linguistik, filsafat bahasa, dan fisika mutakhir, klausa ini tidak menunjukkan kausalitas dalam pengertian klasik. Yang hadir bukanlah urutan sebab-akibat, melainkan identitas ontologis antara makna dan manifestasi. Bahkan, struktur ini lebih menyerupai simetri eksistensial sebagaimana ditemukan dalam fenomena quantum entanglement. Untuk memahami ini secara utuh, kita perlu mengurai konsep كلام نافذ—ujaran yang langsung mengadakan.

POLEMIK AQIDAH KORSLET, MENGAPA HARUS DITARIK DARI TEOLOGI KE EPISTEMOLOGI?

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Polemik Aqidah Korslet—kesalahan fatal menuntut pembuktian rasional untuk memverifikasi aksioma Tuhan (Khāliq), yaitu rukun iman ke-1, —adalah kasus unik. Secara logika, komunitas yang mempertahankan metodologi ini sebenarnya sudah kalah telak dan tidak memiliki argumen lagi. Namun, membiarkan polemik ini berlarut-larut dalam domain aslinya (teologi) adalah kekalahan strategis. Karena itu, ia harus ditarik ke domain epistemologi.

​1. Kekalahan Mutlak di Ranah Logika

​Kritik Aqidah Korslet berakar pada satu prinsip universal yang tak terbantahkan: Titik awal atau aksioma tidak boleh dibuktikan. Inilah pola pikir Iman Berlanjut Istiqomah yang telah memandu peradaban selama berabad-abad. Pola pikir ini mendasari aksiomatisasi geometri oleh Euclid, yang kemudian dilanjutkan oleh Peano hingga ZFC di domain matematika. Hal yang sama berlaku di domain sains, dari aksioma Inersia oleh Newton hingga aksioma Invariansi Laju Cahaya oleh Einstein dan prinsip-prinsip Mekanika Kuantum. Para tokoh ini mengimani aksioma mereka, lalu menerapkan nalar secara Istiqomah (konsisten) untuk membangun sistem. Dengan standar ini, Aqidah Korslet (menuntut pembuktian atas aksioma mutlak) adalah kesalahan logika formal yang terang-benderang. Secara intelektual, komunitas pro-Aqidah Korslet tidak mungkin menang, itulah sebabnya banyak juru dakwah memilih tiarap ketika dihadapkan pada kritik ini.

QS. 30:20–25 — ENAM AYAT YANG DIINGKARI AQIDAH KORSLET

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Wabah overthinking—yaitu kekhawatiran dan analisis berlebihan yang melumpuhkan—melanda umat Islam karena gagal memahami kaidah fondasi keimanan yang telah ditetapkan oleh al-Qur’an:

> إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَـٰمُوا۟ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

(QS. Al-Aḥqāf: 13)

Ayat ini menyajikan formula metodologis dua langkah:

  1. Aksiomatisasi iman: قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ

  2. Pembuktian konsistensi: ثُمَّ ٱسْتَقَـٰمُوا۟

Imbalannya adalah kebebasan dari kekhawatiran (خَوْف) dan kesedihan (يَحْزَنُونَ). Aqidah Korslet—yaitu tuntutan untuk membuktikan Aksioma Tuhan—adalah penyakit metodologis yang secara fundamental melanggar formula ini, terutama dengan mengingkari fungsi آيات dalam QS. 30:20–25.

BUKAN SALAFI, MELAINKAN TASAWUF DIDUKUNG FILSAFAT MATEMATIKA DAN SAINS, ITULAH PEMBONGKAR DAN PENGGANTI AQIDAH KORSLET

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

​Aqidah Korslet—yaitu kesalahan metodologis dalam membuktikan eksistensi Tuhan (Wājib al-Wujūd, واجب الوجود) dengan menggunakan alam semesta (Mumkin al-Wujūd، ممكن الوجود) sebagai dalil (dalīl)—adalah penyakit nalar yang harus disembuhkan. Koreksi terhadap kekeliruan ini tidak hanya datang dari kritik Salafi, tetapi justru mencapai puncaknya melalui sintesis antara Tasawuf (Ibn ‘Arabi dan Ibn ‘Atha’illah), yang didukung oleh penemuan fundamental dalam filsafat matematika, logika, dan sains modern.

​Kritik Ibnu Taimiyah yang Salah Sasaran

​Ibnu Taimiyah, rujukan utama kelompok Salafi, memang menentang metode mutakallimūn yang mencoba membuktikan Tuhan melalui logika. Namun, penentangannya didasari oleh logika yang berbeda:

THEIS VERSUS ATHEIS: BUKAN PEMBUKTIAN, MELAINKAN AKSIOMATISASI

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Perdebatan abadi antara teisme (keyakinan akan Tuhan/Tujuan) dan ateisme (ketiadaan Tuhan/Tujuan) sering terjebak dalam perangkap yang salah: mencari pembuktian (proof). Teis menuntut ateis membuktikan bahwa Tuhan tidak ada; ateis menuntut teis membuktikan keberadaan Tuhan.

Kenyataannya, konflik ini bukanlah tentang hasil pembuktian (teorema), melainkan tentang aksiomatisasi—yakni, penetapan premis dasar atau fondasi yang diterima tanpa bukti, yang kemudian membentuk seluruh kerangka penalaran.

​Inti permasalahan terletak pada pilihan aksioma ontologis (prinsip-prinsip tentang keberadaan) yang digunakan oleh kedua belah pihak untuk memulai dan menyusun pandangan mereka tentang realitas.