Artikel Kategori: Titik Ba

DUA ARAH MEMBACA AYAT: TAFAKKUR DAN TADABBUR

| Oleh: Redaksi

Gerak kesadaran dalam dua arah: inner-out (dalam ke luar) dan outer-in (luar ke dalam).
Gerak kesadaran dalam dua arah: inner-out (dalam ke luar) dan outer-in (luar ke dalam).

Dari Cakrawala ke Hati, dari Wahyu ke Alam

Al-Qur’an tidak hanya memberikan tanda-tanda kebenaran, tetapi juga mengajarkan metode membaca tanda tersebut. Menariknya, metode ini tidak tunggal. Al-Qur’an menunjukkan dua arah pembacaan realitas: dari luar ke dalam dan dari dalam ke luar. Dua arah ini tampak jelas jika kita memperhatikan dua rangkaian ayat yang berbeda dalam Al-Qur’an, yaitu Surah Fussilat ayat 53 dan Surah Ar-Rahman ayat 1–7. Kedua rangkaian ini sebenarnya menggambarkan dua cara berpikir yang sangat fundamental: induksi dan deduksi.

GÖDEL VERSUS GÖDEL: TEOREMA KETIDAKLENGKAPAN DAN ARGUMEN ONTOLOGI

| Oleh: Redaksi

Dalam sejarah intelektual modern terdapat sebuah ironi yang sangat menarik: seorang logikawan yang membuktikan keterbatasan sistem rasional justru juga merumuskan argumen logis tentang keberadaan Tuhan. Tokoh itu adalah Kurt Gödel.

Di satu sisi, ia mengguncang fondasi matematika melalui Gödel’s Incompleteness Theorems. Di sisi lain, ia menyusun formalisasi logika dari argumen ontologis tentang Tuhan. Dua karya ini sering terlihat seolah saling berhadapan—seakan ada “Gödel melawan Gödel”.

REVOLUSI: TEOREMA KETIDAKLENGKAPAN

Pada tahun 1931, Gödel membuktikan sesuatu yang sangat mengejutkan. Ia menunjukkan bahwa dalam sistem matematika formal yang cukup kuat, selalu ada pernyataan yang benar tetapi tidak dapat dibuktikan di dalam sistem tersebut.

TEPAT 10.000, APAKAH 1 RAMADHAN?

| Oleh: Redaksi

Hari ini, kami di rumah belum berpuasa. Tapi si bungsu, Athiyya (kelas 3 SD) sudah berpuasa. Kebetulan dia sedang mengikuti kegiatan pesantren kilat.

Tepat hari ini pula di akun Facebook Ahmad Thoha Faz muncul tulisan “10 rb pengikut”. Dengan 25 ribu postingan, akun saya relatif tidak laku.

Ya, postingan saya terutama #TitikBa. Berat, tidak mudah dicerna. Hanya sedikit orang tertentu yang tertarik. Seleksi alamiah! Oleh karena itu, terima kasih bagi yang berkenan membaca atau berkomentar.

LEBIH BURUK DARIPADA SEKADAR MUBAZIR, ILMU KALAM MEMBUAT FONDASI KESELURUHAN FISIKA TERBLOKIR

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

 Diam sekaligus gerak adalah “mustahil” dalam perspektif ilmu kalam.
Diam sekaligus gerak adalah "mustahil" dalam perspektif ilmu kalam.

Ilmu Kalām sering kali diagungkan sebagai benteng pertahanan akidah, namun dalam pembacaan ayat kauniyah yang bersifat teknis-operasional, ia justru menjadi penghalang besar bagi kemajuan intelektual. Melalui doktrin jawhar fard (atom materi) dan zamān fard (atom waktu), Kalām membangun sebuah “penjara” logika yang memaksakan alam semesta untuk tunduk pada absolutisme ruang dan waktu yang kaku. Padahal, perintah agama untuk membaca ayat-ayat Allah di alam semesta menuntut kejujuran terhadap realitas fisik. Ketika Kalām bersikukuh pada model atomisme statisnya, ia tidak hanya menjadi mubazir secara fungsional, tetapi secara aktif memblokir akses umat terhadap pemahaman yang lebih dalam mengenai struktur penciptaan yang sesungguhnya.

IMAN SEBAGAI DOGMA, TEOREMA ATAUKAH AKSIOMA ?

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

​Iman sebagai Dogma: Pandangan ini, yang dianut oleh Ibnu Taimiyah dan kelompok Salafi-Wahabi, menempatkan iman sebagai kebenaran final yang diwahyukan (naṣṣ) yang harus diterima sebagaimana adanya tanpa perlu ditafsirkan atau diuji oleh akal. Akal (‘aql) di sini berfungsi sebagai pelayan untuk memahami teks suci (Al-Qur’an dan Sunnah), bukan sebagai hakim atas isinya. Iman (termasuk praktik ketaatan) bersifat self-evident karena otoritas wahyu, sehingga menolak metode filosofis (seperti logika Yunani) yang dianggap dapat merusak kemurnian keyakinan. Iman dalam kerangka ini adalah tujuan akhir dan bukan kesimpulan yang dicari.

DARI OTORITAS ULAMA KE OTORITAS ILMU (NAHDLATUL 'ULAMA MENYAMBUT ABAD "KETUM" DUA)

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

![ Undangan Halaqah “Membedah Hujah KH Afifuddin Muhajir”](/images/uploads/whatsapp-image-2025-12-14-at-09.20.12.jpeg " Undangan Halaqah \“Membedah Hujah KH Afifuddin Muhajir\”")

Hampir satu tahun lalu, saya pernah diundang menjadi pemateri Titik Ba di Pesantren Bahrul Ulum, Karangharjo, Silo, Jember. Sebagai pemateri pertama sekaligus tuan rumah ialah KH Hodri Ariev, sang pengasuh pesantren tersebut yang saat itu sudah menjabat ketua Rabithah Maahid Indonesia (RMI) PBNU.

Simak juga: Titik Ba “Tersesat” di Jember: Rektor ITB di antara Ketua LBM PWNU dan Ketua RMI PBNU - Pantura Post https://share.google/uXxFaloUcAfGDcp3s

GODEL, NOETHER, GALILEO

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Teorema Ketidaklengkapan (Gödel) menetapkan batasan bagi sistem formal, termasuk Teorema Simetri (Noether). Noether menyediakan fondasi struktural yang menjelaskan mengapa Relativitas Gerak harus berlaku. Benarkah?

Ya, pernyataan Anda mengenai jenjang fundamentalitas antara Teorema Ketidaklengkapan Gödel, Teorema Noether, dan Relativitas Gerak adalah benar secara filosofis dan struktural dalam konteks hierarki ilmu. Teorema Ketidaklengkapan Gödel (1931) memang menetapkan batasan epistemologis mutlak bagi semua sistem formal yang cukup kuat, termasuk kerangka matematika yang digunakan untuk merumuskan fisika. Gödel membuktikan bahwa tidak ada sistem formal yang dapat sepenuhnya konsisten dan lengkap, suatu batasan yang secara inheren harus diakui oleh setiap teori atau teorema (seperti Noether) yang dikembangkan di dalamnya. Dengan demikian, Gödel berada di tingkat paling atas, membatasi potensi pengetahuan yang dapat diperoleh dari logika formal.

HABIL SANG WALIYULLĀH PERTAMA

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Dalam sejarah manusia yang paling awal, Hābil tampil bukan hanya sebagai korban pembunuhan pertama, tetapi sebagai simbol ketakwaan dan kemuliaan spiritual. Ia adalah manusia pertama yang kurbannya diterima oleh Allah karena ketakwaannya, sebagaimana disebut dalam Q.S. al-Mā’idah: 27. Ketika saudaranya, Qābil, mengancam hendak membunuhnya, Hābil menolak membalas, seraya berkata, “Jika engkau mengulurkan tanganmu untuk membunuhku, aku tidak akan mengulurkan tanganku untuk membunuhmu.” Ini adalah ekspresi akhlak luhur dan penyerahan total kepada kehendak Allah—ciri khas seorang waliyullāh.

LETAK KESESATAN UMMUL BARAHIN: PENDAPAT KI-AI GEMINI

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Dialog di WhatsApp Group Pesantren Ilmu Eksakta
Dialog di WhatsApp Group Pesantren Ilmu Eksakta

Tidak mudah mengelola WhatsApp Group Pesantren Ilmu Eksakta (PI.E). Sebagai pendiri, saya sering menjadi sasaran debat. Di PI.E memang semua adalah santri.

Ada sekitar 350 “santri” yang lebih dari 90 persen tidak saya kenal secara pribadi. Penelusuran secara acak terungkap banyak di antara mereka bergelar doktor di bidang ilmu komputer, sains dan teknik. Juga seorang kyai/ustadz ternama alumni pesantren Nusantara maupun dari Timur Tengah. Termasuk, yang saat ini saya akhirnya saya kenal secara pribadi, ketua Lembaga Bahtsul Masa’il (LBM) PWNU Jawa Tengah.

POLEMIK "USTADZ TOLOL" (ISTILAH DARI HASANUDIN ABDURAKHMAN)

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Tangkapan layar tulisan Hasanudin Abdurakhman
Tangkapan layar tulisan Hasanudin Abdurakhman

Polemik “Aqidah Korslet” sementara ini sudah mereda. Itu tentang jungkir-balik pembuktian, yang tidak lain merupakan upaya terstruktur dan sistematis menghancurkan fondasi logika, matematika dan sains. Mereka menganggap 1+1=2 sebagai aksioma, pernyataan yang tidak dibuktikan, tapi pada saat yang sama berusaha membuktikan aksioma ultimat (rukun iman ke-1).

Siapa pelaku utama penyebaran Aqidah Korslet? Tentu saja mereka yang selama ini disebut sebagai komunitas terhormat, yaitu “ulama”, tapi terbiasa offside. Dengan congkak mereka menganggap Stephen Hawking, Paul Davies, dkk tidak paham logika dan sains karena gagal membuktikan eksistensi Tuhan.