Artikel Kategori: Titik Ba

QS. 30:20–25 — ENAM AYAT YANG DIINGKARI AQIDAH KORSLET

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Wabah overthinking—yaitu kekhawatiran dan analisis berlebihan yang melumpuhkan—melanda umat Islam karena gagal memahami kaidah fondasi keimanan yang telah ditetapkan oleh al-Qur’an:

> إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَـٰمُوا۟ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

(QS. Al-Aḥqāf: 13)

Ayat ini menyajikan formula metodologis dua langkah:

  1. Aksiomatisasi iman: قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ

  2. Pembuktian konsistensi: ثُمَّ ٱسْتَقَـٰمُوا۟

Imbalannya adalah kebebasan dari kekhawatiran (خَوْف) dan kesedihan (يَحْزَنُونَ). Aqidah Korslet—yaitu tuntutan untuk membuktikan Aksioma Tuhan—adalah penyakit metodologis yang secara fundamental melanggar formula ini, terutama dengan mengingkari fungsi آيات dalam QS. 30:20–25.

BUKAN SALAFI, MELAINKAN TASAWUF DIDUKUNG FILSAFAT MATEMATIKA DAN SAINS, ITULAH PEMBONGKAR DAN PENGGANTI AQIDAH KORSLET

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

​Aqidah Korslet—yaitu kesalahan metodologis dalam membuktikan eksistensi Tuhan (Wājib al-Wujūd, واجب الوجود) dengan menggunakan alam semesta (Mumkin al-Wujūd، ممكن الوجود) sebagai dalil (dalīl)—adalah penyakit nalar yang harus disembuhkan. Koreksi terhadap kekeliruan ini tidak hanya datang dari kritik Salafi, tetapi justru mencapai puncaknya melalui sintesis antara Tasawuf (Ibn ‘Arabi dan Ibn ‘Atha’illah), yang didukung oleh penemuan fundamental dalam filsafat matematika, logika, dan sains modern.

​Kritik Ibnu Taimiyah yang Salah Sasaran

​Ibnu Taimiyah, rujukan utama kelompok Salafi, memang menentang metode mutakallimūn yang mencoba membuktikan Tuhan melalui logika. Namun, penentangannya didasari oleh logika yang berbeda:

THEIS VERSUS ATHEIS: BUKAN PEMBUKTIAN, MELAINKAN AKSIOMATISASI

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Perdebatan abadi antara teisme (keyakinan akan Tuhan/Tujuan) dan ateisme (ketiadaan Tuhan/Tujuan) sering terjebak dalam perangkap yang salah: mencari pembuktian (proof). Teis menuntut ateis membuktikan bahwa Tuhan tidak ada; ateis menuntut teis membuktikan keberadaan Tuhan.

Kenyataannya, konflik ini bukanlah tentang hasil pembuktian (teorema), melainkan tentang aksiomatisasi—yakni, penetapan premis dasar atau fondasi yang diterima tanpa bukti, yang kemudian membentuk seluruh kerangka penalaran.

​Inti permasalahan terletak pada pilihan aksioma ontologis (prinsip-prinsip tentang keberadaan) yang digunakan oleh kedua belah pihak untuk memulai dan menyusun pandangan mereka tentang realitas.

DARI ABSTRAK (TITIK BA) KE KONKRET (ToSM)

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Dari spiritual set (Titik Ba) hingga tool set (ToSM)
Dari spiritual set (Titik Ba) hingga tool set (ToSM)

1. Titik Ba sebagai Spiritual Set

Tauhid (توحيد) adalah simbol verbal, terucap. Apa simbol visual, yang terlihat? Titik Ba.

Terinspirasi gagasan yang berasal dari Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib, terbit buku Titik Ba pada tahun 2007 (Mizan, Bandung) dan terbit ulang pada 2021 (Republika, Jakarta).

GLORIFIKASI SANAD

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Ketika Sesat Pikir Argumentum ad Verecundiam Dijadikan Tradisi Ilmiah di Tengah Umat Islam

-–

Ahmad Thoha Faz mengenal ajaran bumi datar setelah belajar langsung ke bapak kandung (KHA Zainuddin Shiddiq), yang sebelumnya belajar tafsir Jalalain di pesantren.
Ahmad Thoha Faz mengenal ajaran bumi datar setelah belajar langsung ke bapak kandung (KHA Zainuddin Shiddiq), yang sebelumnya belajar tafsir Jalalain di pesantren.

🔍 Pendahuluan

Sanad, dalam tradisi Islam, awalnya adalah sistem verifikasi periwayatan hadis. Namun dalam praktik keilmuan, ia telah mengalami generalisasi dan sakralisasi yang melampaui batas epistemik. Sanad kini digunakan untuk membakukan tafsir, aqidah, fiqh, bahkan logika dan sains—tanpa verifikasi operasional. Akibatnya, ia menjadi sumber pembekuan nalar dan pembakuan sesat pikir argumentum ad verecundiam: menganggap suatu ajaran benar hanya karena berasal dari otoritas yang dihormati.

DARI HANBALI KE ZHAHIRI: PERGESERAN MAZHAB DI BALIK VISION 2030 ARAB SAUDI

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Muhammad bin Salman, sang putra mahkota yang menjadi arsitek utama transformasi sosial dan ekonomi Saudi Arabia melalui Vision 2030
Muhammad bin Salman, sang putra mahkota yang menjadi arsitek utama transformasi sosial dan ekonomi Saudi Arabia melalui Vision 2030

“Beliau lancar berbahasa Inggris. Insya Allah beliau di Solo sampai Senin pagi.”

Begitulah pesan WhatsApp dari KH Muhammad Faeshol Muzammil, yang sedang bersama Syaikh Ahmad Qasim Al-Ghamidi—ulama reformis Arab Saudi yang dikenal sebagai penasihat pribadi Putra Mahkota Muhammad bin Salman (MBS). Pertemuan itu bukan sekadar silaturahmi, melainkan titik terang dari pergeseran mazhab yang sedang berlangsung di jantung dunia Islam: dari konservatisme Hanbali menuju literalisme epistemik ala Zhahiri.

KETEPATAN TASAWUF “ZHAHIRI” IBNU ‘ARABI DAN KESESATAN TAKWIL IBNU TAIMIYAH DALAM CAHAYA SAINS MUTAKHIR

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

“Di dalam dirimu menampung jagat raya”
"Di dalam dirimu menampung jagat raya"

Dalam sejarah pemikiran Islam, Ibnu ‘Arabi dan Ibnu Taimiyah sering diposisikan sebagai dua kutub yang berseberangan. Namun pembacaan yang lebih teliti dan jujur menunjukkan bahwa Ibnu ‘Arabi justru merupakan penjaga makna zhahir Al-Qur’an yang paling konsisten. Ia tidak melarikan diri ke wilayah takwil spekulatif, melainkan menjadikan zhahir sebagai pintu masuk menuju batin yang sahih dan terstruktur. Sebaliknya, Ibnu Taimiyah justru berani melakukan takwil terhadap ayat-ayat yang terang-benderang dan berulang-ulang, terutama dalam hal eksistensi alam semesta.

SYAIKH AHMAD QASIM AL GHAMIDI DAN VISION 2030 ARAB SAUDI

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Syaikh Ahmad Qasim Al Ghamidi dijamu di Keraton Surakarta, 5 September 2025.
Syaikh Ahmad Qasim Al Ghamidi dijamu di Keraton Surakarta, 5 September 2025.

Dalam beberapa tahun terakhir, dominasi Wahabisme di Arab Saudi mengalami penurunan yang signifikan. Sejak peluncuran Vision 2030 oleh Putra Mahkota Muhammad bin Salman, arah kebijakan negara secara eksplisit menjauh dari ekstremisme dan menuju Islam yang lebih moderat dan terbuka. Pernyataan resmi dari sang Putra Mahkota menyebutkan bahwa Arab Saudi akan “mengembalikan Islam ke asalnya yang toleran dan terbuka,” sebuah sinyal kuat bahwa Wahabisme tidak lagi menjadi satu-satunya acuan ideologis negara.

SELAIN KITAB FIQH "TAQRIB", KITAB AQIDAH "UMMUL BARAHIN" PUN PERLU DIREVISI

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Dr KH Nasrullah Afandi Lc MA, ketua Pimpinan Pusat Persatuan Guru NU, menyerukan perombakan kitab fiqh “Taqrib
Dr KH Nasrullah Afandi Lc MA, ketua Pimpinan Pusat Persatuan Guru NU, menyerukan perombakan kitab fiqh "Taqrib

Kebenaran tidak boleh kontradiksi. Tidak mungkin ketika dalam aqidah saya dan anda menerima A, tapi sewaktu menekuni fisika saya dan anda menerima bukan A. Prinsip non-kontradiksi mendasari kewarasan.

Nah, setelah berabad-abad memimpin peradaban dunia, mengapa umat Islam terbelakang dalam logika, matematika dan sains terutama setelah tahun 1500?