Dari spiritual set (Titik Ba) hingga tool set (ToSM)
1. Titik Ba sebagai Spiritual Set
Tauhid (توحيد) adalah simbol verbal, terucap. Apa simbol visual, yang terlihat? Titik Ba.
Terinspirasi gagasan yang berasal dari Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib, terbit buku Titik Ba pada tahun 2007 (Mizan, Bandung) dan terbit ulang pada 2021 (Republika, Jakarta).
Ketika Sesat Pikir Argumentum ad Verecundiam Dijadikan Tradisi Ilmiah di Tengah Umat Islam
-–
Ahmad Thoha Faz mengenal ajaran bumi datar setelah belajar langsung ke bapak kandung (KHA Zainuddin Shiddiq), yang sebelumnya belajar tafsir Jalalain di pesantren.
🔍 Pendahuluan
Sanad, dalam tradisi Islam, awalnya adalah sistem verifikasi periwayatan hadis. Namun dalam praktik keilmuan, ia telah mengalami generalisasi dan sakralisasi yang melampaui batas epistemik. Sanad kini digunakan untuk membakukan tafsir, aqidah, fiqh, bahkan logika dan sains—tanpa verifikasi operasional. Akibatnya, ia menjadi sumber pembekuan nalar dan pembakuan sesat pikir argumentum ad verecundiam: menganggap suatu ajaran benar hanya karena berasal dari otoritas yang dihormati.
Kritik Titik Ba terhadap Segitiga Penrose: 1. Setiap titik sudut seharusnya bukan realitas melainkan realitas simbolik (ayat, simbol, tanda, code) yang perlu di-decode. 2. Secara logika, konsep semacam itu cacat, yaitu tidak ada titik awal yang jelas (circular reasoning).
Muhammad bin Salman, sang putra mahkota yang menjadi arsitek utama transformasi sosial dan ekonomi Saudi Arabia melalui Vision 2030
“Beliau lancar berbahasa Inggris. Insya Allah beliau di Solo sampai Senin pagi.”
Begitulah pesan WhatsApp dari KH Muhammad Faeshol Muzammil, yang sedang bersama Syaikh Ahmad Qasim Al-Ghamidi—ulama reformis Arab Saudi yang dikenal sebagai penasihat pribadi Putra Mahkota Muhammad bin Salman (MBS). Pertemuan itu bukan sekadar silaturahmi, melainkan titik terang dari pergeseran mazhab yang sedang berlangsung di jantung dunia Islam: dari konservatisme Hanbali menuju literalisme epistemik ala Zhahiri.
Dalam sejarah pemikiran Islam, Ibnu ‘Arabi dan Ibnu Taimiyah sering diposisikan sebagai dua kutub yang berseberangan. Namun pembacaan yang lebih teliti dan jujur menunjukkan bahwa Ibnu ‘Arabi justru merupakan penjaga makna zhahir Al-Qur’an yang paling konsisten. Ia tidak melarikan diri ke wilayah takwil spekulatif, melainkan menjadikan zhahir sebagai pintu masuk menuju batin yang sahih dan terstruktur. Sebaliknya, Ibnu Taimiyah justru berani melakukan takwil terhadap ayat-ayat yang terang-benderang dan berulang-ulang, terutama dalam hal eksistensi alam semesta.
Syaikh Ahmad Qasim Al Ghamidi dijamu di Keraton Surakarta, 5 September 2025.
Dalam beberapa tahun terakhir, dominasi Wahabisme di Arab Saudi mengalami penurunan yang signifikan. Sejak peluncuran Vision 2030 oleh Putra Mahkota Muhammad bin Salman, arah kebijakan negara secara eksplisit menjauh dari ekstremisme dan menuju Islam yang lebih moderat dan terbuka. Pernyataan resmi dari sang Putra Mahkota menyebutkan bahwa Arab Saudi akan “mengembalikan Islam ke asalnya yang toleran dan terbuka,” sebuah sinyal kuat bahwa Wahabisme tidak lagi menjadi satu-satunya acuan ideologis negara.
Dr KH Nasrullah Afandi Lc MA, ketua Pimpinan Pusat Persatuan Guru NU, menyerukan perombakan kitab fiqh "Taqrib
Kebenaran tidak boleh kontradiksi. Tidak mungkin ketika dalam aqidah saya dan anda menerima A, tapi sewaktu menekuni fisika saya dan anda menerima bukan A. Prinsip non-kontradiksi mendasari kewarasan.
Nah, setelah berabad-abad memimpin peradaban dunia, mengapa umat Islam terbelakang dalam logika, matematika dan sains terutama setelah tahun 1500?
Ahmad Thoha Faz menitip hadiah Titik Ba untuk pemateri seminar, Ustadz Muhammad Nuruddin.
“Tidak banyak ustadz NU yang ceramahnya logis. Tapi ada satu, yaitu Ustadz Muhammad Nuruddin.”
Begitu komentar teman, sosok terpenting di balik gerakan Sumatera Selatan Berantas Gagap Hitung. Alumni Teknik Industri ITB itu sangat cerdas. Dulu selalu menjadi juara tryout UMPTN, sampai menjadi “sumber penghasilan”.
Ayat Ali ‘Imran: 191 menyusun bukan sekadar laku spiritual, tetapi struktur epistemik yang sangat presisi. Ia menggambarkan tiga serangkai pola pikir ulul albab—mereka yang tidak hanya berzikir, tetapi juga bertafakkur dan menyimpulkan secara rigor. Jika dibaca melalui lensa sistem formal dan filsafat sains, ayat ini menyusun urutan epistemik yang sangat mirip dengan struktur pembentukan teori dalam ilmu pengetahuan dan logika aksiomatik. Berikut penjabaran ketiganya:
Di antara kutipan paling menggugah dalam sejarah sains, ucapan Albert Einstein—“Tuhan tidak bermain dadu”—berdiri sebagai penanda perlawanan terhadap arus baru dalam fisika abad ke-20. Namun kutipan ini sering disalahpahami. Einstein bukan menolak probabilitas secara keseluruhan, melainkan menolak probabilitas sebagai fondasi ontologis dari realitas fisik. Ia menerima probabilitas sebagai alat epistemik dalam sistem yang kompleks, tetapi menolak menjadikannya sebagai prinsip dasar alam semesta.
Probabilitas Kuantum: Ketika Realitas Menjadi Acak
Mekanika kuantum memperkenalkan probabilitas bukan sebagai keterbatasan pengetahuan, tetapi sebagai sifat dasar dunia. Dalam eksperimen dua celah, misalnya, partikel seperti elektron dapat menunjukkan perilaku gelombang dan interferensi bahkan ketika dikirim satu per satu. Lebih mengejutkan lagi, hasil pengukuran spin atau posisi partikel tidak dapat diprediksi secara pasti, hanya secara probabilistik.