Artikel Kategori: Titik Ba

DARI AL-GHAZALI KE BOLTZMANN: API, PROBABILITAS DAN BAHASA ALAM SEMESTA Menanggapi Tulisan Duktur Alma'arif Arif

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

Persamaan entropi dari Boltzmann
Persamaan entropi dari Boltzmann

Di antara nyala api dan hukum-hukum fisika, manusia terus mencari makna: apakah alam semesta ini bergerak karena hukum-hukum yang pasti, atau karena kehendak yang tak terlihat? Newton menyebut hukum gerak sebagai tanda kebesaran Tuhan. Laplace, sebaliknya, menyingkirkan Tuhan dari kalkulasi. Abdus Salam melihat simetri sebagai jejak ilahi dalam fisika. Tapi jauh sebelum mereka, al-Ghazali sudah mengusulkan sesuatu yang lebih radikal: bahwa api tidak niscaya membakar kapas.

SEANDAINYA INERSIA DAN INVARIANSI LAJU CAHAYA TERUS BERUSAHA DIBUKTIKAN

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

#ImanBerlanjutIstiqomah

Sejarah fisika modern ditentukan oleh keberanian untuk berhenti mencari bukti dan mulai menetapkan titik awal. Dua konsep yang menunjukkan hal ini dengan sangat jelas adalah inersia dan invariansi laju cahaya. Keduanya lahir dari eksperimen yang nyaris buntu, namun akhirnya menjadi fondasi sistem teoritis setelah ditetapkan sebagai aksioma. Tanpa penetapan tersebut, revolusi ilmiah tak akan pernah bergerak maju.

Galileo dan Inersia: Keteguhan dalam Absennya Bukti Absolut

Inersia menyatakan bahwa suatu benda akan mempertahankan keadaannya (diam atau bergerak lurus beraturan) kecuali ada gaya luar yang bekerja padanya. Konsep ini tidak muncul dari pembuktian langsung, melainkan dari idealisasi. Galileo menyusun eksperimen bola menggelinding di permukaan miring untuk memperkirakan pergerakan tanpa hambatan. Ia menyadari bahwa semakin licin permukaan, semakin lama bola mempertahankan kecepatannya. Dalam kondisi ideal (tanpa gesekan dan gangguan eksternal), benda akan terus bergerak tanpa perubahan.

Berhentilah Mencari Bukti Adanya Tuhan: Sebuah Refleksi dari Dunia Ilmu Komputer Teoritis

| Oleh: Faiq Miftakhul Falakh, Ph.D

Sejak kecil, saya seperti banyak umat Islam lainnya, diajarkan bahwa Allah itu ada dan Maha Segalanya. Tapi seiring waktu, terutama setelah menempuh studi doktoral di bidang ilmu komputer di Jerman, saya menemukan sebuah sudut pandang yang semakin menguatkan keyakinan itu bukan melalui pembuktian, tetapi melalui pemahaman bahwa iman tidak membutuhkan bukti.

Disertasi doktoral saya membahas tentang Belief Revision atau dalam Bahasa Indonesia, revisi kepercayaan. Ini adalah cabang dari logika formal dan Artificial Intelligence (AI)  yang mencoba menjawab satu pertanyaan mendasar: Bagaimana seharusnya seseorang memperbarui kepercayaannya ketika mendapatkan informasi baru?

POLA PIKIR "IMAN BERLANJUT ISTIQOMAH" DI BALIK REVOLUSI FISIKA ALBERT EINSTEIN

| Oleh: Ahmad Thoha Faz

 Bebaskan imajinasi anda. 1+1=1, seperti juga 1+1=2, adalah tentang memberi nama.
Bebaskan imajinasi anda. 1+1=1, seperti juga 1+1=2, adalah tentang memberi nama.

Dalam perkembangan ilmu pengetahuan, terutama fisika dan matematika, banyak fondasi besar justru lahir dari hal yang pada awalnya tidak menjadi perhatian utama. Fakta-fakta yang dulu dianggap teknis, remeh, atau sekadar gangguan kalkulatif, kemudian dijadikan aksioma—titik awal dari seluruh penalaran baru.

RELIGIUSITAS YANG MENGERIKAN

Kenekatan bodoh para agamawan sungguh mengerikan. Kelompok yang sering disebut sebagai ulama justru berada di barisan terdepan perusakan aqidah dan nalar umat Islam. Itu yang dapat disimpulkan dari polemik “1+1=2” yang berlangsung bertahun-tahun lalu.

1+1 jelas berbeda dengan 2. Bagaimana mungkin 1+1=2 itu aksioma, tidak menuntut pembuktian?

Para perusak logika umat Islam itu bukan para agamawan sembarangan. Mereka adalah para ustadz dengan kecerdasan di atas rata-rata sehingga getol menekuni manthiq yang dikenal sulit.